
KONSELING PASTORAL
Apa itu konseling Kristen?
Kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus untuk menolong orang lain agar hidupnya sesuai dengan maksud-maksud Tuhan.
Siapa yang melakukan:
Orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus dan mengerti firman Tuhan (konselor Kristen). Ini syarat utama. Syarat-syarat lain seperti keterampilan dalam teknik konseling dan pengetahuan pengetahuan pendukung dapat dipenuhi kemudian
Kepada Siapa?
Kepada orang lain (klien, konseli)
Di mana dan kapan?
Pada intinya kegiatan konseling bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, nantu kita harus memperhatikan norma-norma susila masyarakat supaya tidak menimbulkan syak (pra sangka buruk)
Apa rambu-rambunya?
- Firman Tuhan dan minuman Roh Tuhan sebagai rambu utama
- Perhatikan norma masyarakat dan budaya setempat.
- Hindari konseling pribadi dengan lawan jenis, jika keadaan memaksa, bawa orang lain supaya Saudara tidak hanya berdua.
- Hindari kontak fisik yang berlebihan
Bagaimana prosesnya?
- Proses yang utama adalah mendengarkan, sedikit berbicara, dan banyak berdoa, berdoa.
- Jangan merasa untuk bisa melakukan konseling, saya harus memiliki keterampilan ini dan itu baru melangkah melakukan konseling. Pokoknya Saudara bisa mendengarkan, sedikit bicara, dan banyak berdoa itu cukup.
TEKNIK DALAM KONSELING KRISTEN
Dalam melaksanakan konseling Kristen dapat menggunakan beberapa teknik. Teknik tersebut berupa tindakan yang sehari-hari sudah kita lakukan. Teknik itu antara lain:
1. Mendengarkan
Teknik ini diperlukan untuk memperoleh informasi dari klien. Pekerjaan seorang bukanlah menasihati, menasihati, lalu menasihati. Tapi, pekerjaannya yang lebih banyak adalah mendengarkan, lalu mendengarkan, dan mendengarkan lagi. Banyaklah mendengarkan
Teknik mendengarkan: perhatikan secara seksama; perhatikan nada bicara, perubahan tekanan dan volume suara; mendengarkan sambil melihat air muka, matanya (memerah, mengucurkan air mata), dan gerak tubuhnya (tanda-tanda kemarahan, kebencian, kegelisahan, ketakutan, kecemasan, ketidaknyamanan, dll).
Contoh dalam Alkitab, Elihu sabar mendengarkan (Ayub 32:11).
2. Memberi tanggapan
Kalau seseorang sudah bercerita panjang lebar tentang dirinya, lalu Saudara berdiam saja, kira-kira bagaimana perasaan orang itu? Kecewa? Mungkin. Berikan tanggapan terhadapnya.
Teknik memberi tanggapan: padat, jelas, tidak bertele-tele, mengarah kepada pokok persoalan yang diutarakan; tunjukkan bahwa Saudara memberi perhatian dan menghargainya, menyimpulkan; ungkapan yang biasa seseorang memberi tanggapan
Contoh memberi tanggapan:
"Oya, ya, saya jadi mengerti sekarang... Anda kecewa sekali dengan Saudara Anda itu."
"Ya, ya." (sambil menganggukkan kepada dan pandangan ditujukan kepada klien).
3. Bertanya
Untuk memperoleh informasi yang kita butuhkan, kita perlu bertanya. Ini bukan bertanya secara basa-basi, tapi bertanya dengan suatu tujuan. Prinsipnya: gali informasi, gali informasi, gali informasi.
Teknik bertanya: hindari pertanyaan yang membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak", tapi pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang lebih panjang, tentang isi bertanyalah mengenai perasaannya, pikiran dan pendapatnya, penilaiannya, sejarah atau pengalaman hidupnya.
Contoh teknik bertanya:
"Coba anda ceritakan apa yang terjadi sebelum ayahmu memukulmu"
“Saya ingin mengetahui lebih jauh tentang kedekatan hubunganmu dengan istrimu bagaimana perasaanmu ketika anda jauh dengan istrimu seperti sekarang ini”
Contoh dalam Alkitab, antara lain: Tuhan Yesus bertanya kepada perempuan Samaria tentang suami perempuan itu (Yohanes 4)
4. Mengerti
Mencoba memahami dari sudut pandang merupakan teknik yang diperlukan bagi orang konselor. Mungkin bagi Saudara tidak masuk akal atau hal itu merupakan persoalan yang terlalu kecil tapi mengertilah dari sudut perasaannya
Tekniknya: tempatkan diri Saudara sebagai dia, terima apa adanya lebih dulu (ada waktunya Saudara mengoreksi) sampaikan dengan kata kata Saudara
Contoh ungkapan yang menunjukkan pengertian
“Iya,saya mengerti perasaan Anda yang sedang marah kepadanya…”
5. Memberi penguatan
Teknik memberi penguatan dimaksudkan agar klien tetap tabah mengalami penderitaan dan tetap berpengharapan didalam Tuhan Yesus Kristus.
Teknik memberikan penguatan: penguatan dengan kata-kata, penguatan dengan gerak tubuh, gunakan gambaran, contoh ,pengalaman orang lain atau pengalaman klien sendiri sebelumnya; gunakan firman Tuhan; doa.
Contoh memberi penguatan:
"Bapak, memang ini tidak mudah, tapi Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan Bapak." (diungkap sambil menjabat tangan klien dengan erat).
"Kita tahu bahwa pohon itu tahan terhadap badai ketika dia menghadapi badai, begitu juga kita...
Anda sedang dihadapkan dengan badai, agar orang-orang tahu bahwa anak Tuhan tahan terhadap badai."
"Ibu pernah bercerita bahwa ibu pernah menghadapi pengalaman yang sulit, tapi Tuhan menolong tepat pada waktunya. Tuhan yang aulu menolong ibu itu, juga akan menolong ibu sekarang ini!
(disampaikan dengan menepuk bahu klien - jika saudara dan klien sejenis kelamin).
Catatan:
Hindari sentuhan-sentuhan fisik sebanyak mungkin bila Saudara dan klien saudara tidak sejenis kelamin!
6. Konfrontasi
Konfrontasi berarti menentang pernyataan-pernyataan klien karena tidak sesuai dengan kenyataan, pernyataan-pernyataan sebelumnya, atau pun firman Tuhan.
Klien bisa saja bermaksud untuk mendapat belas kasihan, pembelaan, bahkan demi menutupi dosa-dosanya sendiri dengan pernyataan-pernyataan tersebut. Saudara perlu belajar peka terhadap hal-hal seperti ini ingat apa yang disampaikan klien belum tentu benar. Jika saudara simpulkan bahwa apa yang dikatakan tersebut tidak benar, Saudara diperbolehkan melakukan konfrontasi.
Teknik konfrontasi: sampaikan kebenaran dengan lemah lembut, ajak klien untuk memikirkan kembali kesimpulannya dengan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya, arahkan klien untuk mengakui sendiri bahwa kesimpulannya salah kalau memang hal itu salah, konselor tidak perlu bersitegang dengan klien kalau terjadi perbedaan pendapat
Contoh ungkapan yang menunjukkan teknik konfrontasi:
"Anda tadi mengatakan bahwa Anda mengasihi istri Anda, tapi minggu lalu Anda berkencan dengan seorang wanita?"
"Coba renungkan kembali pernyataan Anda tadi, bahwa Anda mau bergantung kepada Tuhan, tapi Anda masih mabuk-mabukan kalau menghadapi masalah!"
"Anda katanya sudah tahu bahwa judi itu berdosa, tetapi mengapa Anda masih ingin berjudi selama sutu setengah tahun lagi?"
7. Mengajar
Dalam konseling ada unsur mengajar sebagai salah satu kegiatan konselor. Isi pengajarannya tidak lain adalah firman Tuhan. Puncak dari kegiatan konseling sebenarnya adalah ketaatan kepada Firman Tuhan dan mempercayakan hidupnya kepada Tuhan Yesus Kristus.
Dalam 2 Timotius 3:16 menyatakan: "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajaruntuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." Jadi Saudara harus belajar tahu Firman Allah
Teknik mengajar: sampaikan firman Tuhan yang memang cocok dengan masalahnya; jangan terlalu panjang sebab Saudara memang bukan sedang berkhotbah.
Contoh:
"Ingat Bro, seperti dalam Roma 8:28, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. .. Di situ dinyatakan
"dalam segala sesuatu"..bukan hal-hal tertentu saja. Dan tujuannya, "untuk mendatangkan kebaikan" bukan mendatangkan keburukan! Harap ini menguatkan kita, Bro!"
8. Menerima
Teknik ini menekankan bahwa konselor harus menerima klien itu seperti apa adanya, tapi tidak berarti membenarkannya dalam segala hal. Saudara menghadapi klien yang cerewet dan kata katanya pedas, keras kepala dan menang sendiri, tidak mau diatur, bebal, dll, terimalah dia apa adanya. Perhatikan prinsip ini justru untuk orang seperti itulah saya diutus Tuhan pada waktu ini; saya tidak sedang mencari orang yang tidak berdosa, tapi untuk orang itulah saya mau dipakai Tuhan demi menolong orang itu.
Teknik menerima: terima klien apa adanya, berilah belas kasihan kepadanya, terima dengan tulus.
Contoh pernyataan menerima klien:
"lya,. bagi saya perkataan Bapak yang seperti itu, saya bisa memaklumi. Saya senang kok, Tuhan jumpakan saya dengan Bapak."
9. Membawa kepada Tuhan Yesus
Teknik konseling yang amat penting adalah membawa klien datang kepada Tunan Yesus Kristus. Ini merupakan puncak kegiatan konseling lainnya di samping menaati firman-Nya. Segala persoalan tidak mungkin diatasi sampai akar-akarnya kalau tidak datang kepada Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu nanti kita akan belajar bagaimana kita melakukan konseling dengan berfokus kepada Tuhan Yesus Kristus.
Teknik: ajak klien melihat segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan Yesus Kristus (ilustrasi termometer), melihat agenda dan maksud-Nya.
Contoh dalam percakapan:
Anda diperlakukan tidak adil oleh pimpinan,.. mari kita pikirkan dan tanyakan kepada Tuhan, apa yang sedang diagendakan Tuhan kepada Anda, sehingga Tuhan izinkan hal itu terjadi. Mungkinkah Tuhan sedang membentuk karakter Anda?"
10. Datang dan bersama.
Datangi dan bersama klien menjadi teknik yang penting dalam konseling Konselor "menjemput bola atau aktif mencari orang yang perlu ditolong kehadiran konselor bersama klien meneguhkan klien bahwa klien yang sedang bermasalah itu tidak sendirian.
Teknik datangi, sapa, terlibat bersama mereka
Kesepuluh teknik dalam konseling, tersebut perlu dilatih dan dikembangkan. Saudara akan semakin menyadari pentingnya teknik-teknik itu dan mengembangkan teknik-ichak yang ain yang Saudara temukan sendiri, kalau Saudara belajar terus melakukan konseling. Mulailah dengan hal-hal sederhana dengan "mengkonseling" teman sendiri dan hal itu menjadi ajang mengasah ketrampilan Saudara.
1Teknik dalam konseling Kristen yang tertulis di sini saya lah kembali dan kembangkan dari buku Gary Collins, Konseling Kristen yang Efektif (Malang : Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1990), hlm. 24-35
MENGAPA GEREJA MASIH MEMBUTUHKAN KONSELING PASTORAL,
PADAHAL SETIAP MINGGU KITA SUDAH MENDENGAR KHOTBAH FIRMAN TUHAN?
Sekilas pertanyaan ini terdengar sederhana. Bahkan
mungkin ada yang berpikir, bukankah Firman Tuhan sudah cukup? Bukankah melalui
khotbah setiap jemaat telah menerima pengajaran yang benar? Kalau demikian,
mengapa masih diperlukan konseling pastoral?
Menurut saya, justru di sinilah letak keunikan pelayanan
gereja.
Khotbah memang sangat penting. Melalui khotbah, Firman
Tuhan diberitakan kepada seluruh jemaat tanpa membedakan siapa mereka. Semua
mendengar Firman yang sama, menerima pengajaran yang sama, dan diarahkan kepada
kebenaran yang sama.
Namun kehidupan setiap orang tidak pernah sama.
Ada yang datang ke gereja dengan hati penuh ucapan
syukur. Ada yang datang sambil menyembunyikan air mata. Ada pasangan yang
sedang menghadapi konflik keluarga. Ada orang tua yang sedang kehilangan
anaknya. Ada anak muda yang bergumul dengan masa depannya. Ada pelayan Tuhan
yang diam-diam sedang mengalami kelelahan rohani. Bahkan ada yang datang ke
gereja dengan senyum di wajahnya, tetapi sebenarnya sedang hancur di dalam hatinya.
Mereka semua duduk di bangku yang sama, mendengar khotbah
yang sama, tetapi pergumulan yang mereka bawa sangat berbeda.
PERBEDAAN KHOTBAH DAN KONSELING
Di sinilah kita melihat bahwa khotbah dan konseling
pastoral bukanlah dua pelayanan yang saling menggantikan, melainkan saling
melengkapi.
Khotbah menyampaikan kebenaran Allah kepada seluruh
jemaat. Sedangkan konseling pastoral membawa kebenaran Allah itu masuk ke dalam
pergumulan hidup seorang pribadi.
Khotbah menjawab pertanyaan, Apa yang Tuhan firmankan
kepada gereja?
Konseling pastoral membantu seseorang menjawab
pertanyaan, Bagaimana Firman itu saya hidupi dalam pergumulan yang sedang saya
alami?
Sering kali masalahnya bukan karena seseorang tidak
mengetahui Firman Tuhan. Banyak orang sudah mengetahui ayat-ayat Alkitab.
Banyak yang hafal janji Tuhan. Bahkan ada yang telah bertahun-tahun menjadi
anggota gereja.
Namun ketika mereka mengalami kehilangan, penolakan,
kegagalan, konflik rumah tangga, atau pergumulan dengan dosa, mereka tidak
selalu tahu bagaimana membawa Firman itu menjadi kekuatan yang nyata dalam
hidup mereka.
Di sinilah pelayanan konseling pastoral menjadi sangat
penting. Seorang konselor pastoral tidak hanya menyampaikan kebenaran, tetapi
juga berjalan bersama seseorang sampai ia mampu mengalami kebenaran itu dalam
kehidupannya.
Karena itu, tidak semua orang yang datang ke gereja
datang dengan kebutuhan yang sama. Ada yang membutuhkan pengajaran. Ada yang
membutuhkan penguatan. Ada yang membutuhkan teguran. Ada pula yang hanya membutuhkan
seseorang yang bersedia duduk, mendengar, dan menghadirkan kasih Kristus di
tengah pergumulannya.
Dan saya percaya, itulah panggilan konseling pastoral.
Menjadi kehadiran Kristus bagi mereka yang sedang terluka, agar Firman yang
didengar pada hari Minggu benar-benar menjadi kehidupan yang dialami setiap
hari.
HAKIKAT KONSELING PASTORAL
Sebenarnya, apa itu konseling pastoral?
Pertanyaan ini penting, karena selama bertahun-tahun saya
melihat masih ada banyak kesalahpahaman mengenai pelayanan konseling di gereja.
Ada yang menganggap konseling pastoral hanyalah psikologi
yang diberi ayat Alkitab. Ada pula yang berpikir bahwa tugas seorang konselor
hanyalah memberikan nasihat sebanyak-banyaknya. Bahkan ada yang merasa bahwa
konseling adalah kesempatan untuk menunjukkan kesalahan seseorang agar ia
segera bertobat.
Kalau pemahaman kita berhenti di situ, maka kita sedang
mempersempit makna konseling pastoral yang sesungguhnya.
Definisi
Konseling Pastoral adalah pelayanan pendampingan yang
menolong seseorang mengalami pemulihan melalui kasih Kristus, kebenaran Firman
Tuhan, dan karya Roh Kudus.
Perhatikan ada tiga unsur penting di dalam definisi ini.
Pertama, ada kasih Kristus. Artinya, orang yang datang
kepada kita harus terlebih dahulu merasakan bahwa dirinya diterima sebagai
manusia yang berharga. Sebelum mendengar nasihat, ia perlu merasakan kasih
Kristus melalui sikap dan kehadiran kita.
Kedua, ada kebenaran Firman Tuhan. Konseling pastoral
tidak berhenti pada empati. Kita memang mendengar dengan penuh perhatian,
tetapi arah akhirnya tetap membawa seseorang kepada kebenaran Allah. Kasih
tanpa kebenaran dapat menjadi kompromi, sedangkan kebenaran tanpa kasih dapat
melukai. Dalam Kristus, kasih dan kebenaran berjalan bersama.
Ketiga, ada karya Roh Kudus. Kita perlu menyadari bahwa
tidak ada seorang pun yang mampu mengubah hati manusia dengan kekuatannya
sendiri. Kita dapat mendengar, membimbing, dan berdoa, tetapi hanya Roh Kudus
yang sanggup memperbarui hati seseorang. Karena itu, konseling pastoral bukan
sekadar percakapan antara dua orang, melainkan pelayanan yang melibatkan
kehadiran Allah sendiri.
APA YANG BUKAN KONSELING PASTORAL?
Konseling Pastoral bukan sekadar psikologi yang diberi
ayat Alkitab.
Psikologi memberikan banyak wawasan yang berharga
mengenai perilaku manusia, dan kita dapat belajar darinya. Namun fondasi
konseling pastoral bukanlah teori psikologi, melainkan karya penebusan Kristus
dan kebenaran Firman Tuhan. Konseling pastoral juga bukan perlombaan memberikan
nasihat. Kadang-kadang kita terlalu cepat berbicara, padahal orang yang datang
belum selesai menceritakan isi hatinya. Kita sibuk mencari jawaban, sementara
ia hanya membutuhkan seseorang yang sungguh-sungguh mau mendengar. Demikian
pula, konseling pastoral bukanlah ruang penghakiman. Tujuan kita bukan
mempermalukan orang karena dosanya, melainkan menolongnya kembali mengalami
kasih karunia Allah. Yesus sendiri membenci dosa, tetapi Ia datang untuk
menyelamatkan orang berdosa. Itulah teladan yang harus kita hidupi.
HAKIKAT KONSELING PASTORAL
Lalu, apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang konselor
pastoral? Menurut saya, ada empat kata sederhana yang dapat menjadi pegangan
kita.
1. Mendengar.
Sering kali pelayanan dimulai bukan dari kata-kata kita,
tetapi dari kesediaan kita mendengarkan. Mendengar adalah bentuk penghormatan
terhadap martabat seseorang. Ketika seseorang merasa didengar, ia mulai percaya
bahwa dirinya tidak sedang berjalan sendirian.
2. Memahami.
Memahami berarti berusaha melihat persoalan dari sudut
pandang orang yang sedang bergumul. Kita tidak tergesa-gesa memberikan
penilaian, tetapi berusaha memahami pergumulannya sebelum memberikan arahan.
Inilah yang disebut empati.
3. Membimbing.
Setelah mendengar dan memahami, barulah kita menuntun
orang tersebut kepada terang Firman Tuhan. Membimbing bukan berarti memaksakan
kehendak kita, melainkan membantu seseorang menemukan kembali jalan yang Tuhan
kehendaki.
4. Memulihkan.
Tujuan akhir konseling pastoral bukan supaya orang bergantung kepada konselornya. Tujuannya adalah agar ia dipulihkan hubungannya dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesamanya. Ketika itu terjadi, konseling telah mencapai maksud yang sebenarnya.
Prinsip-prinsip ini bukanlah gagasan manusia. Semuanya
berakar pada Firman Tuhan.
Galatia 6:2 Rasul Paulus berkata, Bertolong-tolonganlah
menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Konseling pastoral
adalah wujud nyata dari panggilan untuk memikul beban sesama.
Roma 15:1 mengingatkan bahwa mereka yang kuat dipanggil
untuk menanggung kelemahan mereka yang tidak kuat, bukan mencari kesenangan
diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa pelayanan pastoral selalu mengarahkan
kekuatan kita untuk membangun orang lain.
Yohanes 10:11, Yesus berkata, Akulah Gembala yang baik. Seorang gembala yang baik tidak hanya mengenal jalannya, tetapi juga mengenal domba-dombanya. Ia hadir, melindungi, memimpin, dan bahkan menyerahkan nyawanya bagi mereka. Di sinilah kita menemukan model tertinggi dari seorang konselor pastoral.
Setelah memahami hakikat konseling pastoral, kita perlu
bertanya: bagaimana Yesus sendiri melakukannya? Sebab sebelum kita belajar
berbagai teknik konseling, kita terlebih dahulu harus belajar dari Pribadi yang
menjadi Gembala Agung. Karena itu, pada bagian berikutnya kita akan melihat
Yesus sebagai model utama dalam konseling pastoral.
III. YESUS SEBAGAI MODEL KONSELOR
Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, setelah
kita memahami hakikat konseling pastoral, sekarang kita sampai pada pertanyaan
yang paling penting.
Siapakah teladan utama seorang konselor pastoral?
Di zaman sekarang kita dapat mempelajari banyak teori
konseling. Ada pendekatan psikodinamik, behavioristik, kognitif, humanistik,
maupun berbagai pendekatan lainnya. Semua memiliki kontribusi yang dapat kita
pelajari.
Namun sebagai pelayan Tuhan, sebelum kita belajar dari
para ahli, kita terlebih dahulu belajar dari Kristus. Sebab Yesus bukan hanya
Pengkhotbah Agung, tetapi juga Gembala Agung. Ia mengenal manusia, memahami
hati manusia, dan menghadirkan pemulihan bagi mereka yang datang kepada-Nya.
Karena itu, model konseling pastoral yang paling sempurna bukan pertama-tama
ditemukan di ruang kelas, melainkan di dalam Injil.
1. YESUS MEMBANGUN RELASI SEBELUM MEMBERIKAN SOLUSI
YOHANES 4 - PEREMPUAN SAMARIA
Kalau kita melihat kisah perempuan Samaria dalam Yohanes,
kita akan menemukan sesuatu yang menarik. Yesus sebenarnya sudah mengetahui
siapa perempuan itu. Ia mengetahui masa lalunya, kegagalannya, bahkan kehidupan
yang sedang dijalaninya saat itu.
Tetapi Yesus tidak memulai percakapan dengan mengungkap
dosa perempuan itu. Ia memulai dengan membangun relasi. Berilah Aku minum.
Kalimat yang sederhana ini membuka sebuah percakapan. Dari percakapan lahirlah
kepercayaan. Dari kepercayaan muncul keterbukaan. Dan ketika hati mulai
terbuka, barulah Yesus membawa perempuan itu kepada akar persoalannya. Ini
menjadi pelajaran penting bagi kita.
Sering kali kita ingin segera menyelesaikan masalah
seseorang. Padahal orang tersebut belum percaya kepada kita. Ia belum merasa
aman untuk membuka isi hatinya. Yesus mengajarkan bahwa hubungan selalu
mendahului nasihat. Relasi mendahului koreksi.
2. YESUS MENGGALI SEBELUM MENGARAHKAN
Perhatikan juga bagaimana Yesus banyak menggunakan
pertanyaan. Beliau tidak langsung memberikan ceramah. Ia bertanya. Ia memberi
ruang bagi orang tersebut untuk berbicara. Melalui pertanyaan, Yesus menolong
seseorang mengenali dirinya sendiri. Di sinilah kita belajar bahwa seorang
konselor pastoral bukan hanya pandai berbicara. Ia harus terlebih dahulu
menjadi pendengar yang baik. Mendengar bukan tanda bahwa kita tidak tahu harus
berkata apa. Justru mendengar adalah bentuk kasih yang memberi ruang bagi
seseorang untuk mengungkapkan isi hatinya.
3. YESUS MENYENTUH AKAR MASALAH, BUKAN HANYA GEJALANYA
Setelah perempuan Samaria mulai terbuka, Yesus berkata,
Pergilah, panggillah suamimu. Bukan karena Yesus tidak tahu jawabannya. Tetapi
karena Yesus sedang membawa perempuan itu melihat akar pergumulannya. Sering
kali masalah yang disampaikan seseorang bukanlah masalah yang sebenarnya.
Kemarahan bisa menyembunyikan luka. Keputusasaan bisa menyembunyikan rasa
bersalah. Penolakan bisa menyembunyikan kerinduan untuk diterima.
Seorang konselor pastoral perlu belajar membedakan antara
gejala dan akar persoalan. Kita tidak hanya mendengar apa yang diucapkan,
tetapi juga berusaha memahami apa yang sedang dirasakan.
4. YESUS SELALU MEMBAWA KEPADA PEMULIHAN
YOHANES 8 - PEREMPUAN YANG BERZINAH
Contoh berikutnya adalah perempuan yang kedapatan
berzina. Orang banyak datang dengan membawa batu. Mereka ingin menghukum.
Tetapi Yesus datang membawa kasih karunia dan kebenaran.
Perhatikan bahwa Yesus tidak pernah berkata bahwa dosa
itu benar. Namun Ia juga tidak menghancurkan orang berdosa. Aku pun tidak
menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi. Kalimat ini
memperlihatkan keseimbangan yang indah. Ada penerimaan tanpa pembenaran
terhadap dosa. Ada kasih yang tetap memanggil kepada pertobatan.
Sebagai pelayan Tuhan, kita dipanggil untuk memiliki
keseimbangan yang sama. Jangan mengorbankan kebenaran demi kasih. Tetapi jangan
pula memakai kebenaran tanpa kasih.
5. YESUS BERJALAN BERSAMA SEBELUM MENJELASKAN FIRMAN
LUKAS 24 - MURID-MURID KE EMAUS
Terakhir, mari kita melihat perjalanan menuju Emaus.
Dua murid sedang kecewa. Mereka kehilangan harapan.
Mereka bahkan tidak menyadari bahwa Yesus sedang berjalan bersama mereka.
Menariknya, Yesus tidak langsung berkata, Kalian salah. Ia berjalan bersama
mereka. Ia bertanya. Apakah yang kamu percakapkan? Ia mendengarkan cerita
mereka. Barulah setelah itu Yesus menjelaskan Kitab Suci.
Perhatikan urutannya, Berjalan bersama, Mendengar, Bertanya, dan Menjelaskan Firman. Urutan ini mengajarkan kepada kita bahwa Firman Tuhan paling mudah diterima ketika hati seseorang telah lebih dahulu merasa dipahami.
Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, dari
ketiga kisah ini kita melihat pola pelayanan Yesus yang sangat konsisten.
1. Yesus
membangun relasi sebelum memberikan arahan.
2. Yesus
mendengar sebelum berbicara.
3. Yesus
menggali akar persoalan sebelum menawarkan jalan keluar.
Dan pada akhirnya, Yesus selalu membawa orang kepada
pemulihan, bukan kepada penghukuman.
Inilah yang membedakan konseling pastoral dari sekadar
memberikan nasihat. Konseling pastoral bukan terutama tentang kepandaian kita
berbicara, melainkan tentang bagaimana kita menghadirkan kasih, kebenaran, dan
pengharapan Kristus kepada mereka yang sedang terluka. Jika Kristus adalah
Gembala Agung, maka setiap pelayan Tuhan dipanggil untuk belajar menggembalakan
sebagaimana Kristus telah menggembalakan umat-Nya.
LIMA KOMPETENSI SEORANG KONSELOR PASTORAL
Setelah kita melihat bagaimana Yesus melayani manusia,
sekarang pertanyaannya adalah: bagaimana kita menerapkannya dalam pelayanan
sehari-hari?
Menjadi seorang konselor pastoral bukan berarti harus
mengetahui semua jawaban. Bahkan, bukan berarti kita mampu menyelesaikan semua
persoalan. Yang Tuhan minta adalah kesediaan kita untuk menjadi alat-Nya bagi
mereka yang sedang bergumul.
Ada lima hal sederhana yang perlu dimiliki oleh setiap
pelayan Tuhan ketika mendampingi seseorang.
1. Belajar Hadir
Yang pertama adalah belajar hadir.
Sekilas ini terdengar sederhana, tetapi justru sering
kali inilah yang paling sulit.
Kadang-kadang ketika seseorang mulai bercerita, pikiran
kita sudah sibuk mencari solusi. Kita belum selesai mendengar, tetapi kita
sudah menyiapkan jawaban. Bahkan sebelum orang itu selesai berbicara, kita
sudah memotong pembicaraannya.
Padahal, bagi seseorang yang sedang terluka, kehadiran
sering kali lebih berharga daripada penjelasan.
Hadir berarti memberikan perhatian yang utuh. Menatap
dengan penuh hormat. Tidak tergesa-gesa. Tidak sibuk dengan telepon genggam.
Tidak merasa dikejar waktu. Kita memberikan ruang agar ia tahu bahwa pada saat
itu, ia benar-benar diperhatikan.
Kadang-kadang Tuhan memakai kehadiran kita lebih dahulu sebelum memakai kata-kata kita.
2. Belajar Mendengar
Yang kedua adalah mendengar.
Yakobus 1:19 mengingatkan kita, Setiap orang hendaklah
cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk
marah.
Ayat ini bukan hanya etika berbicara, tetapi juga prinsip
pelayanan pastoral.
Mendengar bukan sekadar menangkap kata-kata yang
diucapkan. Mendengar berarti berusaha memahami apa yang ada di balik kata-kata
itu.
Ada orang yang berkata, Saya baik-baik saja, tetapi
matanya menunjukkan kelelahan. Ada yang tersenyum, tetapi sebenarnya sedang
menanggung beban yang berat. Ada pula yang marah, padahal yang sebenarnya ia
rasakan adalah ketakutan atau kekecewaan.
Karena itu, seorang konselor pastoral perlu belajar mendengar bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan hati.
3. Belajar Berempati
Yang ketiga adalah empati.
Di sinilah sering muncul kesalahpahaman. Ada yang mengira
bahwa berempati berarti menyetujui semua tindakan seseorang. Padahal bukan itu
artinya.
Empati bukan berarti membenarkan apa yang salah. Empati
berarti berusaha memahami apa yang sedang dirasakan oleh orang tersebut.
Yesus menunjukkan teladan ini berulang kali. Ia dapat
memahami pergumulan seseorang tanpa harus membenarkan dosanya.
Ketika seseorang merasa dipahami, ia akan lebih terbuka
untuk menerima arahan. Sebaliknya, jika ia merasa langsung dihakimi, biasanya
yang muncul adalah sikap bertahan dan menutup diri.
Empati membuka pintu hati. Dan dari hati yang terbuka itulah proses pemulihan dapat dimulai.
4. Membimbing dengan Firman Tuhan
Yang keempat adalah membimbing dengan Firman Tuhan.
Sebagai pelayan Tuhan, kita percaya bahwa Firman adalah
dasar kehidupan. Namun kita juga perlu belajar bagaimana menyampaikan Firman
dengan bijaksana.
Mazmur 119:105 berkata, Firman-Mu itu pelita bagi kakiku
dan terang bagi jalanku.
Perhatikan bahwa Alkitab menyebut Firman sebagai pelita
dan terang, bukan sebagai senjata untuk melukai orang lain.
Kadang-kadang seseorang datang dengan hati yang sudah
hancur, tetapi kita justru menambah lukanya dengan ayat yang disampaikan tanpa
kasih. Ayatnya benar, tetapi waktunya belum tepat. Isi pesannya benar, tetapi
cara penyampaiannya membuat orang semakin menjauh.
Firman Tuhan memang menegur, tetapi tujuan teguran adalah
membawa kepada pertobatan dan pemulihan, bukan mempermalukan atau
menghancurkan.
Karena itu, tugas seorang konselor pastoral bukan sekadar mengutip ayat, tetapi menolong seseorang melihat bagaimana Firman Tuhan menjadi terang bagi langkah hidupnya hari ini.
5. Mengetahui Batas Pelayanan
Yang terakhir, dan menurut saya sangat penting, adalah
mengetahui batas pelayanan kita.
Sering kali ada anggapan bahwa setiap persoalan pasti
selesai hanya dengan doa dan konseling pastoral. Sebagai orang percaya, kita
tentu meyakini kuasa doa. Kita percaya Tuhan sanggup melakukan mujizat.
Namun pada saat yang sama, Tuhan juga memberikan hikmat
melalui ilmu pengetahuan dan profesi-profesi yang dapat menolong manusia.
Ada kondisi seperti depresi berat, gangguan bipolar,
skizofrenia, atau kecanduan yang kompleks. Dalam situasi seperti ini, pelayanan
pastoral tetap diperlukan, tetapi sering kali perlu berjalan bersama dengan
pendampingan psikolog atau psikiater.
Merujuk seseorang kepada tenaga profesional bukan berarti
iman kita kurang. Justru itu menunjukkan bahwa kita mengasihi orang tersebut
dan menginginkan ia memperoleh pertolongan yang paling tepat.
Seorang gembala yang baik tidak merasa harus melakukan semuanya sendiri. Ia cukup rendah hati untuk bekerja sama demi kebaikan domba-domba yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
Konseling Pastoral bukan terutama berbicara tentang
kemampuan berbicara. Konseling Pastoral adalah tentang kualitas kehadiran kita
di hadapan orang yang sedang bergumul.
Ketika kita belajar hadir, mendengar dengan hati,
berempati, membimbing dengan Firman, dan memiliki kerendahan hati untuk
mengenali batas pelayanan kita, maka kita sedang meneladani Kristus sebagai
Gembala yang Baik.
Kiranya setiap kita bukan hanya menjadi pelayan yang
pandai berkhotbah, tetapi juga menjadi pendamping yang mampu menghadirkan
kasih, kebenaran, dan pengharapan Kristus di tengah mereka yang sedang terluka.
Sebelum kita mengakhiri seminar ini, izinkan saya
mengajak kita semua merenungkan satu pertanyaan.
Jika hari ini ada seseorang yang sedang terluka datang
kepada saya, apakah ia akan menemukan seorang hakim, ataukah ia akan menemukan
seorang gembala?
Pertanyaan ini bukan hanya untuk para pendeta. Bukan
hanya untuk dosen teologi atau mahasiswa. Pertanyaan ini juga berlaku bagi
setiap orang percaya yang dipanggil untuk saling menanggung beban sebagaimana
diajarkan oleh Firman Tuhan.
Di tengah dunia yang semakin sibuk, banyak orang
sebenarnya tidak kekurangan informasi. Mereka justru kekurangan seseorang yang
bersedia hadir, mendengar, dan berjalan bersama mereka. Karena itu, pelayanan
pastoral bukan pertama-tama tentang kemampuan berbicara, melainkan tentang
kesediaan mengasihi.
Konseling Pastoral bukan dimulai ketika kita menemukan kata-kata yang tepat, tetapi ketika kita bersedia menghadirkan kasih Kristus kepada seseorang yang sedang memikul beban hidupnya. Sebab sering kali, pemulihan tidak lahir dari banyaknya nasihat, melainkan dari kehadiran seorang gembala yang mencerminkan hati Kristus
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus5.Kegagalan yg masih ada di dalam diri saya
BalasHapus1.saya masih blm bisa menahan emosi
2.saya masih belum bisa mengurangi berkata"
3.saya masih org yang egois
4.saya masih kurang dalam menganju orang
5.saya masih sulit melakukan pendekatan dengan org yg tidak satu visi
5. Kegagalan dalam diri saya yaitu:
BalasHapus* Selalu membandingkan diri dengan orang lain
*Kurang disiplin sama diri sendiri
* Terkadang suka menunda Nunda
* Terkadang Pura pura kuat padahal tidak
* Terkadang mau menyerah saat ada tantangan
5 kegagalan dalam hidup saya
BalasHapus1. gagal karena takut mencoba hal baru
2. gagal menabung uang
3. gagal disiplin
4. gagal mengontrol diri
5. gagal manejemen waktu
5kegagalan dalam Hidupku:
BalasHapus1. Cara bersikap & nada Bicara
2.Mengeluh
3.Sering bolong" Baca Firman
4.Mengingat" kesalahan orang
5.Gampng Emosi
Kegagalan yang saya alami adalah :
BalasHapus1. Saya pernah gagal dalam belajar menjahit
2. saya pernah gagal dalam pergaulan
3. saya pernah gagal dalam kekudusan
4. saya pernah gagal dalam hal kesetiaan
5. saya pernah gagal dalam emosional
5 Kegagalan dalam diri saya
BalasHapus1. Kurang pede dlm segala hal
2. Sulit untuk bergaul dengan orang baru
3. Kadang susah menangkap apa yang dijelaskan.
4. Suka lupa menyimpan barang.
5. Gampang overthinking
Kegagalan saya adalah
BalasHapusDimana saya sering kali gagal dalam ,
1.amarah,.
2.taat,
3.bersungut bersungut
4.menjaga hati
5. Suka menunda nunda
5 kegagalan saya
BalasHapus1. Buruk dalam pengelolaan waktu/ kurang disiplin dlm waktu
2. Gagal dalam melatih talenta saya
3. Gagal mengontrol diri supaya tdk marah
4. Gagal untuk buat doa pribadi yang saya sudah tetapkan tapi saya melakukannya tidak tiap hari
5. Gagal dalam hal mengntrol diri dalam sakit hati ketika saya di tegor.
Gerson PANDIANGAN
BalasHapusKegagalan yang saya alami
1. Kurang bisa mengontrol keuangan
2. Cara bersikap kepada yang lebih dewasa terlalu berlebihan
3. Hidup yang tidak mau kalah dengan orang lain
4. Sering merasa gagal ketika ekspetasi dalam diri itu tidak terjadi
5. Ceroboh yang selalu kadang hadir
Target yang bakal di layani 30 jiwa
HapusBayak kegagalan yang saya halamai namun saya ingin memberi beberapa hal yang saya halami.
BalasHapus1. gagal dalam kekudusan
2. sering ingat" masa lalu
3. gagal dalam megampuni sering simpan dendam
4. menyesal karna dosa masa lalu
5. rasa penggen minum minuman keras
5 kegalalan yang saya alami.
BalasHapus1.mengampuni, saya selalu gagal mengampuni keluarga, terutama orang tua.
2.pelayanan, saya gagal pelayanan 6 bulan. Karena tidak berhasil melewati semuanya.
3.Insecure, saya selalu merasa hidup saya lebih buruk dari orang lain
4.taat, saya selalu gagal dalam keataan
5.jatuh ke dosa yang sama, saya jatuh ke dosa yang sama seperti, merokok dan mabuk, saat saya pelayanan ke kampung halaman saya.
Kegagalan yang masih ada di dalam kehidupan saya
BalasHapus1. Gagal menjaga iman ketika menghadapi suatu masalah
2. Gagal dalam pelayanan tetapi mau terus untuk belajar menjadi lebih baik
3. Masih gagal dalam mengandalkan Tuhan
4.masih sering rasa khawatir muncul
5. Bolehkah bapak mendoakan saya
15
BalasHapusTarget 30 jiwa
BalasHapusTarget saya yang akan saya layani Tahun ini
BalasHapus30 jiwa yang akan saya layani dan mendo'akan
15 jiwa
BalasHapusTarget yang akan saya layani dalam satu tahun ini sebanyak 40 jiwa
BalasHapusTarget yang akan saya layani 30 orang
BalasHapusTarget saya 15 jiwa
BalasHapusTarget saya 30
BalasHapus50 jiwa
BalasHapusYang akan saya layani 20 Jiwa.
BalasHapustarget 100
BalasHapusminimal 10
Komitmen saya melayani orang tanpa melihat apa yg menjadi latar belakang nya
BalasHapusAminnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
BalasHapusYang saya harapkan dari konseling pastoral ialah Ruang bagi seseorang untuk mencurahkan isi hati, kekhawatiran, kepedihan, atau keraguan yang mungkin sulit dibagikan di tempat lain.
BalasHapusYang saya harapkan adalah saya bisa menjadi jawaban bagi orang orang yang merasakan tidak memiliki jalan keluar, membutuhkan pertolongan, Mencari jawaban,
BalasHapusDan saya menjadi wadah bagi mereka karna mereka adalah ciptaan Tuhan
Dan juga mendengar kan yang orang rasakan
HapusYang saya harapkan lewat pastoral konseling saya dapat memahami bagaimana kondisi jemaat supaya lebih dekat kepada mereka
BalasHapusHal yang saya harapkan dari konseling pastoral adalah saya bisa untuk lebih memberi motivasi,kekuatan kepada orang orang yang sudah tidak tau dalam mengambil keputusan.
BalasHapusyang saya harapkan dari konseling pastoral
BalasHapus1. Ruang aman tanpa ada penghakiman
2. Dukungan spritual
saya ingin mejadi berkati bagi sesama mejadi pendegar yang baik dan memberikan solisi bagi setiap orang yang membutukan
BalasHapusYang saya harapkan dri konseling pastoral adalah:
BalasHapusDidengarkan dengan tulus,bimbingan berdasarkan firman tuhan, kejelasan dan arah
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusYang saya harapkan dari konseling pastoral adalah dukungan spiritual sekaligus emosional yang berakar pada iman
BalasHapusBimbingan dan arahan, pendamaian ralasi, dukungan, dan penopangan
Hapus3. Pemulihan hubungan
BalasHapus4. Pengembangan ketahan diri
Empati
Saya harap lewat konseling pastoral saya harap banyak yg terberkati
BalasHapusSaya harap melalui pembelajaran Konseling Pastoral, saya bisa belajar memahami dan mendengarkan masalah orang lain, membantu mereka dengan kasih dan firman Tuhan tanpa menghakimi, belajar menjadi pribadi yg lebih sabar, peka terhadap perasaan orang lain, dan bisa menjaga kepercayaan
BalasHapusorang yang bercerita kepada saya.
yang saya harapkan dari konseling pastoral adalah 1. memperkuat pentingnya komunitas iman untuk mendukung serta menopang setiap orang.
BalasHapus2.melayani semua orang
3. menguatkan saudara
4. menjadi sahabat
5. membantu seseorang semakin dekat dengan Tuhan
Yang saya harapkan dari Konseling Pastoral adalah pertumbuhan pribadi, pertumbuhan iman, menguatkan iman, ada perubahan dalam hidup saya, dan Rendah hati.
BalasHapusHarapan saya :
BalasHapus1. Semakin mendalami lebih lagi tentang konseling pastoral
2. Semakin mempersiapkan saya untuk menjadi konselor yang baik
3. Mau semakin di bimbing sejalan dengan firman Tuhan
4. Biarlah lewat pelajaran konseling pastoral ini semakin menguatkan iman saya
5. Semakin menambah relasi dan juga menopang orang lain dalam pelayanan konseling pastoral