STAPIN 2026 - KONSELING PASTORAL


 KONSELING PASTORAL 

Apa itu konseling Kristen?

Kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang  yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus untuk menolong orang lain agar hidupnya sesuai dengan maksud-maksud Tuhan. 

Siapa yang melakukan:

Orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus dan mengerti firman Tuhan (konselor Kristen). Ini syarat utama. Syarat-syarat lain seperti keterampilan dalam teknik konseling dan pengetahuan pengetahuan pendukung dapat dipenuhi kemudian 

Kepada Siapa?

Kepada orang lain (klien, konseli) 

Di mana dan kapan?

Pada intinya kegiatan konseling bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, nantu kita harus memperhatikan norma-norma susila masyarakat supaya tidak menimbulkan syak (pra sangka buruk) 

Apa rambu-rambunya?

  • Firman Tuhan dan minuman Roh Tuhan sebagai rambu utama
  • Perhatikan norma masyarakat dan budaya setempat.
  • Hindari konseling pribadi dengan lawan jenis, jika keadaan memaksa, bawa orang lain supaya Saudara tidak hanya berdua.
  • Hindari kontak fisik yang berlebihan 

Bagaimana prosesnya?

  • Proses yang utama adalah mendengarkan, sedikit berbicara, dan banyak berdoa, berdoa.
  • Jangan merasa untuk bisa melakukan konseling,  saya harus memiliki keterampilan ini dan itu baru melangkah melakukan konseling. Pokoknya Saudara bisa mendengarkan, sedikit bicara, dan banyak berdoa itu cukup.

  

TEKNIK DALAM KONSELING KRISTEN 

Dalam melaksanakan konseling Kristen dapat menggunakan beberapa teknik. Teknik tersebut berupa tindakan yang sehari-hari sudah kita lakukan. Teknik itu antara lain: 

1. Mendengarkan

Teknik ini diperlukan untuk memperoleh informasi dari klien. Pekerjaan seorang bukanlah menasihati, menasihati, lalu menasihati. Tapi, pekerjaannya yang lebih banyak adalah mendengarkan, lalu mendengarkan, dan mendengarkan lagi. Banyaklah mendengarkan

Teknik mendengarkan: perhatikan secara seksama; perhatikan nada bicara, perubahan tekanan dan volume suara; mendengarkan sambil melihat air muka, matanya (memerah, mengucurkan air mata), dan gerak tubuhnya (tanda-tanda kemarahan, kebencian, kegelisahan, ketakutan, kecemasan, ketidaknyamanan, dll).

Contoh dalam Alkitab, Elihu sabar mendengarkan (Ayub 32:11). 

2. Memberi tanggapan

Kalau seseorang sudah bercerita panjang lebar tentang dirinya, lalu Saudara berdiam saja, kira-kira bagaimana perasaan orang itu? Kecewa? Mungkin. Berikan tanggapan terhadapnya.

Teknik memberi tanggapan: padat, jelas, tidak bertele-tele, mengarah kepada pokok persoalan yang diutarakan; tunjukkan bahwa Saudara memberi perhatian dan menghargainya, menyimpulkan; ungkapan yang biasa seseorang memberi tanggapan

Contoh memberi tanggapan:

"Oya, ya, saya jadi mengerti sekarang... Anda kecewa sekali dengan Saudara Anda itu."

"Ya, ya." (sambil menganggukkan kepada dan pandangan ditujukan kepada klien).

3. Bertanya

Untuk memperoleh informasi yang kita butuhkan, kita perlu bertanya. Ini bukan bertanya secara basa-basi, tapi bertanya dengan suatu tujuan. Prinsipnya: gali informasi, gali informasi, gali informasi. 

Teknik bertanya: hindari pertanyaan yang membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak", tapi pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang lebih panjang, tentang isi bertanyalah mengenai perasaannya, pikiran dan pendapatnya, penilaiannya, sejarah atau pengalaman hidupnya.

Contoh teknik bertanya:

"Coba anda ceritakan apa yang terjadi sebelum ayahmu memukulmu"

“Saya ingin mengetahui lebih jauh tentang kedekatan hubunganmu dengan istrimu bagaimana perasaanmu ketika anda jauh dengan istrimu seperti sekarang ini”

Contoh dalam Alkitab, antara lain: Tuhan Yesus bertanya kepada perempuan Samaria tentang suami perempuan itu (Yohanes 4) 

4. Mengerti

Mencoba memahami dari sudut pandang merupakan teknik yang diperlukan bagi orang konselor. Mungkin bagi Saudara tidak masuk akal atau hal itu merupakan persoalan yang terlalu kecil tapi mengertilah dari sudut perasaannya

Tekniknya: tempatkan diri Saudara sebagai dia, terima apa adanya lebih dulu (ada waktunya Saudara mengoreksi) sampaikan dengan kata kata Saudara

Contoh ungkapan yang menunjukkan pengertian

“Iya,saya mengerti perasaan Anda yang sedang marah kepadanya…”

 5. Memberi penguatan

Teknik memberi penguatan dimaksudkan agar klien tetap tabah mengalami penderitaan dan tetap berpengharapan didalam Tuhan Yesus Kristus.

Teknik memberikan penguatan: penguatan dengan kata-kata, penguatan dengan gerak tubuh, gunakan gambaran, contoh ,pengalaman orang lain atau pengalaman klien sendiri sebelumnya; gunakan firman Tuhan; doa.

Contoh memberi penguatan:

"Bapak, memang ini tidak mudah, tapi Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan Bapak." (diungkap sambil menjabat tangan klien dengan erat).

"Kita tahu bahwa pohon itu tahan terhadap badai ketika dia menghadapi badai, begitu juga kita...

Anda sedang dihadapkan dengan badai, agar orang-orang tahu bahwa anak Tuhan tahan terhadap badai."

"Ibu pernah bercerita bahwa ibu pernah menghadapi pengalaman yang sulit, tapi Tuhan menolong tepat pada waktunya. Tuhan yang aulu menolong ibu itu, juga akan menolong ibu sekarang ini!

(disampaikan dengan menepuk bahu klien - jika saudara dan klien sejenis kelamin).

Catatan:

Hindari sentuhan-sentuhan fisik sebanyak mungkin bila Saudara dan klien saudara tidak sejenis kelamin! 

6. Konfrontasi

Konfrontasi berarti menentang pernyataan-pernyataan klien karena tidak sesuai dengan kenyataan, pernyataan-pernyataan sebelumnya, atau pun firman Tuhan.

Klien bisa saja bermaksud untuk mendapat belas kasihan, pembelaan, bahkan demi menutupi dosa-dosanya sendiri dengan pernyataan-pernyataan tersebut. Saudara perlu belajar peka terhadap hal-hal seperti ini ingat apa yang disampaikan klien belum tentu benar. Jika saudara simpulkan bahwa apa yang dikatakan tersebut tidak benar, Saudara diperbolehkan melakukan konfrontasi.

Teknik konfrontasi: sampaikan kebenaran dengan lemah lembut, ajak klien untuk memikirkan kembali kesimpulannya dengan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya, arahkan klien untuk mengakui sendiri bahwa kesimpulannya salah kalau memang hal itu salah, konselor tidak perlu bersitegang dengan klien kalau terjadi perbedaan pendapat 

Contoh ungkapan yang menunjukkan teknik konfrontasi:

"Anda tadi mengatakan bahwa Anda mengasihi istri Anda, tapi minggu lalu Anda berkencan dengan seorang wanita?"

"Coba renungkan kembali pernyataan Anda tadi, bahwa Anda mau bergantung kepada Tuhan, tapi Anda masih mabuk-mabukan kalau menghadapi masalah!"

"Anda katanya sudah tahu bahwa judi itu berdosa, tetapi mengapa Anda masih ingin berjudi selama sutu setengah tahun lagi?" 

7. Mengajar

    Dalam konseling ada unsur mengajar sebagai salah satu kegiatan konselor. Isi pengajarannya tidak lain adalah firman Tuhan. Puncak dari kegiatan konseling sebenarnya adalah ketaatan kepada Firman Tuhan dan mempercayakan hidupnya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Dalam 2 Timotius 3:16 menyatakan: "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajaruntuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." Jadi Saudara harus belajar tahu Firman Allah

Teknik mengajar: sampaikan firman Tuhan yang memang cocok dengan masalahnya; jangan terlalu panjang sebab Saudara memang bukan sedang berkhotbah.

Contoh:

"Ingat Bro, seperti dalam Roma 8:28, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. .. Di situ dinyatakan

"dalam segala sesuatu"..bukan hal-hal tertentu saja. Dan tujuannya, "untuk mendatangkan kebaikan" bukan mendatangkan keburukan! Harap ini menguatkan kita, Bro!" 

 8. Menerima

Teknik ini menekankan bahwa konselor harus menerima klien itu seperti apa adanya, tapi tidak berarti membenarkannya dalam segala hal. Saudara menghadapi klien yang cerewet dan kata katanya pedas, keras kepala dan menang sendiri, tidak mau diatur, bebal, dll, terimalah dia apa adanya. Perhatikan prinsip  ini justru untuk orang seperti itulah saya diutus Tuhan pada waktu ini; saya tidak sedang mencari orang yang tidak berdosa, tapi untuk orang itulah saya mau dipakai Tuhan demi menolong orang itu.

Teknik menerima: terima klien apa adanya, berilah belas kasihan kepadanya, terima dengan tulus.

Contoh pernyataan menerima klien:

"lya,. bagi saya perkataan Bapak yang seperti itu, saya bisa memaklumi. Saya senang kok, Tuhan jumpakan saya dengan Bapak." 

9. Membawa kepada Tuhan Yesus

Teknik konseling yang amat penting adalah membawa klien datang kepada Tunan Yesus Kristus. Ini merupakan puncak kegiatan konseling lainnya di samping menaati firman-Nya. Segala persoalan tidak mungkin diatasi sampai akar-akarnya kalau tidak datang kepada Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu nanti kita akan belajar bagaimana kita melakukan konseling dengan berfokus kepada Tuhan Yesus Kristus.

Teknik: ajak klien melihat segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan Yesus Kristus (ilustrasi termometer), melihat agenda dan maksud-Nya.

Contoh dalam percakapan:

Anda diperlakukan tidak adil oleh pimpinan,.. mari kita pikirkan dan tanyakan kepada Tuhan, apa yang sedang diagendakan Tuhan kepada Anda, sehingga Tuhan izinkan hal itu terjadi. Mungkinkah Tuhan sedang membentuk karakter Anda?"

10. Datang dan bersama.

Datangi dan bersama klien menjadi teknik yang penting dalam konseling Konselor "menjemput bola atau aktif mencari orang yang perlu ditolong kehadiran konselor bersama klien meneguhkan klien bahwa klien yang sedang bermasalah itu tidak sendirian.

Teknik datangi, sapa, terlibat bersama mereka

Kesepuluh teknik dalam konseling, tersebut perlu dilatih dan dikembangkan. Saudara akan semakin menyadari pentingnya teknik-teknik itu dan mengembangkan teknik-ichak yang ain yang Saudara temukan sendiri, kalau Saudara belajar terus melakukan konseling. Mulailah dengan hal-hal sederhana dengan "mengkonseling" teman sendiri dan hal itu menjadi ajang mengasah ketrampilan Saudara. 

1Teknik dalam konseling Kristen yang tertulis di sini saya lah kembali dan kembangkan dari buku Gary Collins, Konseling Kristen yang Efektif (Malang : Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1990), hlm. 24-35



MENGAPA GEREJA MASIH MEMBUTUHKAN KONSELING PASTORAL, PADAHAL SETIAP MINGGU KITA SUDAH MENDENGAR KHOTBAH FIRMAN TUHAN?

Sekilas pertanyaan ini terdengar sederhana. Bahkan mungkin ada yang berpikir, bukankah Firman Tuhan sudah cukup? Bukankah melalui khotbah setiap jemaat telah menerima pengajaran yang benar? Kalau demikian, mengapa masih diperlukan konseling pastoral? 

Menurut saya, justru di sinilah letak keunikan pelayanan gereja.

Khotbah memang sangat penting. Melalui khotbah, Firman Tuhan diberitakan kepada seluruh jemaat tanpa membedakan siapa mereka. Semua mendengar Firman yang sama, menerima pengajaran yang sama, dan diarahkan kepada kebenaran yang sama.

Namun kehidupan setiap orang tidak pernah sama.

Ada yang datang ke gereja dengan hati penuh ucapan syukur. Ada yang datang sambil menyembunyikan air mata. Ada pasangan yang sedang menghadapi konflik keluarga. Ada orang tua yang sedang kehilangan anaknya. Ada anak muda yang bergumul dengan masa depannya. Ada pelayan Tuhan yang diam-diam sedang mengalami kelelahan rohani. Bahkan ada yang datang ke gereja dengan senyum di wajahnya, tetapi sebenarnya sedang hancur di dalam hatinya.

Mereka semua duduk di bangku yang sama, mendengar khotbah yang sama, tetapi pergumulan yang mereka bawa sangat berbeda.

 

PERBEDAAN KHOTBAH DAN KONSELING

Di sinilah kita melihat bahwa khotbah dan konseling pastoral bukanlah dua pelayanan yang saling menggantikan, melainkan saling melengkapi.

Khotbah menyampaikan kebenaran Allah kepada seluruh jemaat. Sedangkan konseling pastoral membawa kebenaran Allah itu masuk ke dalam pergumulan hidup seorang pribadi.

Khotbah menjawab pertanyaan, Apa yang Tuhan firmankan kepada gereja?

Konseling pastoral membantu seseorang menjawab pertanyaan, Bagaimana Firman itu saya hidupi dalam pergumulan yang sedang saya alami?

Sering kali masalahnya bukan karena seseorang tidak mengetahui Firman Tuhan. Banyak orang sudah mengetahui ayat-ayat Alkitab. Banyak yang hafal janji Tuhan. Bahkan ada yang telah bertahun-tahun menjadi anggota gereja.

Namun ketika mereka mengalami kehilangan, penolakan, kegagalan, konflik rumah tangga, atau pergumulan dengan dosa, mereka tidak selalu tahu bagaimana membawa Firman itu menjadi kekuatan yang nyata dalam hidup mereka.

Di sinilah pelayanan konseling pastoral menjadi sangat penting. Seorang konselor pastoral tidak hanya menyampaikan kebenaran, tetapi juga berjalan bersama seseorang sampai ia mampu mengalami kebenaran itu dalam kehidupannya.

Karena itu, tidak semua orang yang datang ke gereja datang dengan kebutuhan yang sama. Ada yang membutuhkan pengajaran. Ada yang membutuhkan penguatan. Ada yang membutuhkan teguran. Ada pula yang hanya membutuhkan seseorang yang bersedia duduk, mendengar, dan menghadirkan kasih Kristus di tengah pergumulannya.

Dan saya percaya, itulah panggilan konseling pastoral. Menjadi kehadiran Kristus bagi mereka yang sedang terluka, agar Firman yang didengar pada hari Minggu benar-benar menjadi kehidupan yang dialami setiap hari.

 

HAKIKAT KONSELING PASTORAL

Sebenarnya, apa itu konseling pastoral?

Pertanyaan ini penting, karena selama bertahun-tahun saya melihat masih ada banyak kesalahpahaman mengenai pelayanan konseling di gereja.

Ada yang menganggap konseling pastoral hanyalah psikologi yang diberi ayat Alkitab. Ada pula yang berpikir bahwa tugas seorang konselor hanyalah memberikan nasihat sebanyak-banyaknya. Bahkan ada yang merasa bahwa konseling adalah kesempatan untuk menunjukkan kesalahan seseorang agar ia segera bertobat.

Kalau pemahaman kita berhenti di situ, maka kita sedang mempersempit makna konseling pastoral yang sesungguhnya.

Definisi

Konseling Pastoral adalah pelayanan pendampingan yang menolong seseorang mengalami pemulihan melalui kasih Kristus, kebenaran Firman Tuhan, dan karya Roh Kudus.

Perhatikan ada tiga unsur penting di dalam definisi ini.

Pertama, ada kasih Kristus. Artinya, orang yang datang kepada kita harus terlebih dahulu merasakan bahwa dirinya diterima sebagai manusia yang berharga. Sebelum mendengar nasihat, ia perlu merasakan kasih Kristus melalui sikap dan kehadiran kita.

Kedua, ada kebenaran Firman Tuhan. Konseling pastoral tidak berhenti pada empati. Kita memang mendengar dengan penuh perhatian, tetapi arah akhirnya tetap membawa seseorang kepada kebenaran Allah. Kasih tanpa kebenaran dapat menjadi kompromi, sedangkan kebenaran tanpa kasih dapat melukai. Dalam Kristus, kasih dan kebenaran berjalan bersama.

Ketiga, ada karya Roh Kudus. Kita perlu menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang mampu mengubah hati manusia dengan kekuatannya sendiri. Kita dapat mendengar, membimbing, dan berdoa, tetapi hanya Roh Kudus yang sanggup memperbarui hati seseorang. Karena itu, konseling pastoral bukan sekadar percakapan antara dua orang, melainkan pelayanan yang melibatkan kehadiran Allah sendiri.

 

APA YANG BUKAN KONSELING PASTORAL?

Konseling Pastoral bukan sekadar psikologi yang diberi ayat Alkitab.

Psikologi memberikan banyak wawasan yang berharga mengenai perilaku manusia, dan kita dapat belajar darinya. Namun fondasi konseling pastoral bukanlah teori psikologi, melainkan karya penebusan Kristus dan kebenaran Firman Tuhan. Konseling pastoral juga bukan perlombaan memberikan nasihat. Kadang-kadang kita terlalu cepat berbicara, padahal orang yang datang belum selesai menceritakan isi hatinya. Kita sibuk mencari jawaban, sementara ia hanya membutuhkan seseorang yang sungguh-sungguh mau mendengar. Demikian pula, konseling pastoral bukanlah ruang penghakiman. Tujuan kita bukan mempermalukan orang karena dosanya, melainkan menolongnya kembali mengalami kasih karunia Allah. Yesus sendiri membenci dosa, tetapi Ia datang untuk menyelamatkan orang berdosa. Itulah teladan yang harus kita hidupi.

 

HAKIKAT KONSELING PASTORAL

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang konselor pastoral? Menurut saya, ada empat kata sederhana yang dapat menjadi pegangan kita.

1.      Mendengar.

Sering kali pelayanan dimulai bukan dari kata-kata kita, tetapi dari kesediaan kita mendengarkan. Mendengar adalah bentuk penghormatan terhadap martabat seseorang. Ketika seseorang merasa didengar, ia mulai percaya bahwa dirinya tidak sedang berjalan sendirian.

2.      Memahami.

Memahami berarti berusaha melihat persoalan dari sudut pandang orang yang sedang bergumul. Kita tidak tergesa-gesa memberikan penilaian, tetapi berusaha memahami pergumulannya sebelum memberikan arahan. Inilah yang disebut empati.

3.      Membimbing.

Setelah mendengar dan memahami, barulah kita menuntun orang tersebut kepada terang Firman Tuhan. Membimbing bukan berarti memaksakan kehendak kita, melainkan membantu seseorang menemukan kembali jalan yang Tuhan kehendaki.

4.      Memulihkan.

Tujuan akhir konseling pastoral bukan supaya orang bergantung kepada konselornya. Tujuannya adalah agar ia dipulihkan hubungannya dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesamanya. Ketika itu terjadi, konseling telah mencapai maksud yang sebenarnya. 

Prinsip-prinsip ini bukanlah gagasan manusia. Semuanya berakar pada Firman Tuhan.

Galatia 6:2 Rasul Paulus berkata, Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Konseling pastoral adalah wujud nyata dari panggilan untuk memikul beban sesama.

Roma 15:1 mengingatkan bahwa mereka yang kuat dipanggil untuk menanggung kelemahan mereka yang tidak kuat, bukan mencari kesenangan diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa pelayanan pastoral selalu mengarahkan kekuatan kita untuk membangun orang lain.

Yohanes 10:11, Yesus berkata, Akulah Gembala yang baik. Seorang gembala yang baik tidak hanya mengenal jalannya, tetapi juga mengenal domba-dombanya. Ia hadir, melindungi, memimpin, dan bahkan menyerahkan nyawanya bagi mereka. Di sinilah kita menemukan model tertinggi dari seorang konselor pastoral. 

Setelah memahami hakikat konseling pastoral, kita perlu bertanya: bagaimana Yesus sendiri melakukannya? Sebab sebelum kita belajar berbagai teknik konseling, kita terlebih dahulu harus belajar dari Pribadi yang menjadi Gembala Agung. Karena itu, pada bagian berikutnya kita akan melihat Yesus sebagai model utama dalam konseling pastoral.

 

III. YESUS SEBAGAI MODEL KONSELOR

Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, setelah kita memahami hakikat konseling pastoral, sekarang kita sampai pada pertanyaan yang paling penting.

Siapakah teladan utama seorang konselor pastoral?

Di zaman sekarang kita dapat mempelajari banyak teori konseling. Ada pendekatan psikodinamik, behavioristik, kognitif, humanistik, maupun berbagai pendekatan lainnya. Semua memiliki kontribusi yang dapat kita pelajari.

Namun sebagai pelayan Tuhan, sebelum kita belajar dari para ahli, kita terlebih dahulu belajar dari Kristus. Sebab Yesus bukan hanya Pengkhotbah Agung, tetapi juga Gembala Agung. Ia mengenal manusia, memahami hati manusia, dan menghadirkan pemulihan bagi mereka yang datang kepada-Nya. Karena itu, model konseling pastoral yang paling sempurna bukan pertama-tama ditemukan di ruang kelas, melainkan di dalam Injil.

 

1. YESUS MEMBANGUN RELASI SEBELUM MEMBERIKAN SOLUSI

YOHANES 4 - PEREMPUAN SAMARIA

Kalau kita melihat kisah perempuan Samaria dalam Yohanes, kita akan menemukan sesuatu yang menarik. Yesus sebenarnya sudah mengetahui siapa perempuan itu. Ia mengetahui masa lalunya, kegagalannya, bahkan kehidupan yang sedang dijalaninya saat itu.

Tetapi Yesus tidak memulai percakapan dengan mengungkap dosa perempuan itu. Ia memulai dengan membangun relasi. Berilah Aku minum. Kalimat yang sederhana ini membuka sebuah percakapan. Dari percakapan lahirlah kepercayaan. Dari kepercayaan muncul keterbukaan. Dan ketika hati mulai terbuka, barulah Yesus membawa perempuan itu kepada akar persoalannya. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita.

Sering kali kita ingin segera menyelesaikan masalah seseorang. Padahal orang tersebut belum percaya kepada kita. Ia belum merasa aman untuk membuka isi hatinya. Yesus mengajarkan bahwa hubungan selalu mendahului nasihat. Relasi mendahului koreksi.

 

2. YESUS MENGGALI SEBELUM MENGARAHKAN

Perhatikan juga bagaimana Yesus banyak menggunakan pertanyaan. Beliau tidak langsung memberikan ceramah. Ia bertanya. Ia memberi ruang bagi orang tersebut untuk berbicara. Melalui pertanyaan, Yesus menolong seseorang mengenali dirinya sendiri. Di sinilah kita belajar bahwa seorang konselor pastoral bukan hanya pandai berbicara. Ia harus terlebih dahulu menjadi pendengar yang baik. Mendengar bukan tanda bahwa kita tidak tahu harus berkata apa. Justru mendengar adalah bentuk kasih yang memberi ruang bagi seseorang untuk mengungkapkan isi hatinya.

 

3. YESUS MENYENTUH AKAR MASALAH, BUKAN HANYA GEJALANYA

Setelah perempuan Samaria mulai terbuka, Yesus berkata, Pergilah, panggillah suamimu. Bukan karena Yesus tidak tahu jawabannya. Tetapi karena Yesus sedang membawa perempuan itu melihat akar pergumulannya. Sering kali masalah yang disampaikan seseorang bukanlah masalah yang sebenarnya. Kemarahan bisa menyembunyikan luka. Keputusasaan bisa menyembunyikan rasa bersalah. Penolakan bisa menyembunyikan kerinduan untuk diterima.

Seorang konselor pastoral perlu belajar membedakan antara gejala dan akar persoalan. Kita tidak hanya mendengar apa yang diucapkan, tetapi juga berusaha memahami apa yang sedang dirasakan.

 

4. YESUS SELALU MEMBAWA KEPADA PEMULIHAN

YOHANES 8 - PEREMPUAN YANG BERZINAH

Contoh berikutnya adalah perempuan yang kedapatan berzina. Orang banyak datang dengan membawa batu. Mereka ingin menghukum. Tetapi Yesus datang membawa kasih karunia dan kebenaran.

Perhatikan bahwa Yesus tidak pernah berkata bahwa dosa itu benar. Namun Ia juga tidak menghancurkan orang berdosa. Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi. Kalimat ini memperlihatkan keseimbangan yang indah. Ada penerimaan tanpa pembenaran terhadap dosa. Ada kasih yang tetap memanggil kepada pertobatan.

Sebagai pelayan Tuhan, kita dipanggil untuk memiliki keseimbangan yang sama. Jangan mengorbankan kebenaran demi kasih. Tetapi jangan pula memakai kebenaran tanpa kasih.

 

5. YESUS BERJALAN BERSAMA SEBELUM MENJELASKAN FIRMAN

LUKAS 24 - MURID-MURID KE EMAUS

Terakhir, mari kita melihat perjalanan menuju Emaus.

Dua murid sedang kecewa. Mereka kehilangan harapan. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa Yesus sedang berjalan bersama mereka. Menariknya, Yesus tidak langsung berkata, Kalian salah. Ia berjalan bersama mereka. Ia bertanya. Apakah yang kamu percakapkan? Ia mendengarkan cerita mereka. Barulah setelah itu Yesus menjelaskan Kitab Suci.

Perhatikan urutannya, Berjalan bersama, Mendengar, Bertanya, dan Menjelaskan Firman. Urutan ini mengajarkan kepada kita bahwa Firman Tuhan paling mudah diterima ketika hati seseorang telah lebih dahulu merasa dipahami. 

Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, dari ketiga kisah ini kita melihat pola pelayanan Yesus yang sangat konsisten.

1.      Yesus membangun relasi sebelum memberikan arahan.

2.      Yesus mendengar sebelum berbicara.

3.      Yesus menggali akar persoalan sebelum menawarkan jalan keluar.

Dan pada akhirnya, Yesus selalu membawa orang kepada pemulihan, bukan kepada penghukuman.

Inilah yang membedakan konseling pastoral dari sekadar memberikan nasihat. Konseling pastoral bukan terutama tentang kepandaian kita berbicara, melainkan tentang bagaimana kita menghadirkan kasih, kebenaran, dan pengharapan Kristus kepada mereka yang sedang terluka. Jika Kristus adalah Gembala Agung, maka setiap pelayan Tuhan dipanggil untuk belajar menggembalakan sebagaimana Kristus telah menggembalakan umat-Nya.

 

LIMA KOMPETENSI SEORANG KONSELOR PASTORAL

Setelah kita melihat bagaimana Yesus melayani manusia, sekarang pertanyaannya adalah: bagaimana kita menerapkannya dalam pelayanan sehari-hari?

Menjadi seorang konselor pastoral bukan berarti harus mengetahui semua jawaban. Bahkan, bukan berarti kita mampu menyelesaikan semua persoalan. Yang Tuhan minta adalah kesediaan kita untuk menjadi alat-Nya bagi mereka yang sedang bergumul.

Ada lima hal sederhana yang perlu dimiliki oleh setiap pelayan Tuhan ketika mendampingi seseorang.

1. Belajar Hadir

Yang pertama adalah belajar hadir.

Sekilas ini terdengar sederhana, tetapi justru sering kali inilah yang paling sulit.

Kadang-kadang ketika seseorang mulai bercerita, pikiran kita sudah sibuk mencari solusi. Kita belum selesai mendengar, tetapi kita sudah menyiapkan jawaban. Bahkan sebelum orang itu selesai berbicara, kita sudah memotong pembicaraannya.

Padahal, bagi seseorang yang sedang terluka, kehadiran sering kali lebih berharga daripada penjelasan.

Hadir berarti memberikan perhatian yang utuh. Menatap dengan penuh hormat. Tidak tergesa-gesa. Tidak sibuk dengan telepon genggam. Tidak merasa dikejar waktu. Kita memberikan ruang agar ia tahu bahwa pada saat itu, ia benar-benar diperhatikan.

Kadang-kadang Tuhan memakai kehadiran kita lebih dahulu sebelum memakai kata-kata kita. 

2. Belajar Mendengar

Yang kedua adalah mendengar.

Yakobus 1:19 mengingatkan kita, Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah.

Ayat ini bukan hanya etika berbicara, tetapi juga prinsip pelayanan pastoral.

Mendengar bukan sekadar menangkap kata-kata yang diucapkan. Mendengar berarti berusaha memahami apa yang ada di balik kata-kata itu.

Ada orang yang berkata, Saya baik-baik saja, tetapi matanya menunjukkan kelelahan. Ada yang tersenyum, tetapi sebenarnya sedang menanggung beban yang berat. Ada pula yang marah, padahal yang sebenarnya ia rasakan adalah ketakutan atau kekecewaan.

Karena itu, seorang konselor pastoral perlu belajar mendengar bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan hati. 

3. Belajar Berempati

Yang ketiga adalah empati.

Di sinilah sering muncul kesalahpahaman. Ada yang mengira bahwa berempati berarti menyetujui semua tindakan seseorang. Padahal bukan itu artinya.

Empati bukan berarti membenarkan apa yang salah. Empati berarti berusaha memahami apa yang sedang dirasakan oleh orang tersebut.

Yesus menunjukkan teladan ini berulang kali. Ia dapat memahami pergumulan seseorang tanpa harus membenarkan dosanya.

Ketika seseorang merasa dipahami, ia akan lebih terbuka untuk menerima arahan. Sebaliknya, jika ia merasa langsung dihakimi, biasanya yang muncul adalah sikap bertahan dan menutup diri.

Empati membuka pintu hati. Dan dari hati yang terbuka itulah proses pemulihan dapat dimulai. 

4. Membimbing dengan Firman Tuhan

Yang keempat adalah membimbing dengan Firman Tuhan.

Sebagai pelayan Tuhan, kita percaya bahwa Firman adalah dasar kehidupan. Namun kita juga perlu belajar bagaimana menyampaikan Firman dengan bijaksana.

Mazmur 119:105 berkata, Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

Perhatikan bahwa Alkitab menyebut Firman sebagai pelita dan terang, bukan sebagai senjata untuk melukai orang lain.

Kadang-kadang seseorang datang dengan hati yang sudah hancur, tetapi kita justru menambah lukanya dengan ayat yang disampaikan tanpa kasih. Ayatnya benar, tetapi waktunya belum tepat. Isi pesannya benar, tetapi cara penyampaiannya membuat orang semakin menjauh.

Firman Tuhan memang menegur, tetapi tujuan teguran adalah membawa kepada pertobatan dan pemulihan, bukan mempermalukan atau menghancurkan.

Karena itu, tugas seorang konselor pastoral bukan sekadar mengutip ayat, tetapi menolong seseorang melihat bagaimana Firman Tuhan menjadi terang bagi langkah hidupnya hari ini. 

5. Mengetahui Batas Pelayanan

Yang terakhir, dan menurut saya sangat penting, adalah mengetahui batas pelayanan kita.

Sering kali ada anggapan bahwa setiap persoalan pasti selesai hanya dengan doa dan konseling pastoral. Sebagai orang percaya, kita tentu meyakini kuasa doa. Kita percaya Tuhan sanggup melakukan mujizat.

Namun pada saat yang sama, Tuhan juga memberikan hikmat melalui ilmu pengetahuan dan profesi-profesi yang dapat menolong manusia.

Ada kondisi seperti depresi berat, gangguan bipolar, skizofrenia, atau kecanduan yang kompleks. Dalam situasi seperti ini, pelayanan pastoral tetap diperlukan, tetapi sering kali perlu berjalan bersama dengan pendampingan psikolog atau psikiater.

Merujuk seseorang kepada tenaga profesional bukan berarti iman kita kurang. Justru itu menunjukkan bahwa kita mengasihi orang tersebut dan menginginkan ia memperoleh pertolongan yang paling tepat.

Seorang gembala yang baik tidak merasa harus melakukan semuanya sendiri. Ia cukup rendah hati untuk bekerja sama demi kebaikan domba-domba yang dipercayakan Tuhan kepadanya. 

Konseling Pastoral bukan terutama berbicara tentang kemampuan berbicara. Konseling Pastoral adalah tentang kualitas kehadiran kita di hadapan orang yang sedang bergumul.

Ketika kita belajar hadir, mendengar dengan hati, berempati, membimbing dengan Firman, dan memiliki kerendahan hati untuk mengenali batas pelayanan kita, maka kita sedang meneladani Kristus sebagai Gembala yang Baik.

Kiranya setiap kita bukan hanya menjadi pelayan yang pandai berkhotbah, tetapi juga menjadi pendamping yang mampu menghadirkan kasih, kebenaran, dan pengharapan Kristus di tengah mereka yang sedang terluka.

Sebelum kita mengakhiri seminar ini, izinkan saya mengajak kita semua merenungkan satu pertanyaan.

Jika hari ini ada seseorang yang sedang terluka datang kepada saya, apakah ia akan menemukan seorang hakim, ataukah ia akan menemukan seorang gembala?

Pertanyaan ini bukan hanya untuk para pendeta. Bukan hanya untuk dosen teologi atau mahasiswa. Pertanyaan ini juga berlaku bagi setiap orang percaya yang dipanggil untuk saling menanggung beban sebagaimana diajarkan oleh Firman Tuhan.

Di tengah dunia yang semakin sibuk, banyak orang sebenarnya tidak kekurangan informasi. Mereka justru kekurangan seseorang yang bersedia hadir, mendengar, dan berjalan bersama mereka. Karena itu, pelayanan pastoral bukan pertama-tama tentang kemampuan berbicara, melainkan tentang kesediaan mengasihi.

Konseling Pastoral bukan dimulai ketika kita menemukan kata-kata yang tepat, tetapi ketika kita bersedia menghadirkan kasih Kristus kepada seseorang yang sedang memikul beban hidupnya. Sebab sering kali, pemulihan tidak lahir dari banyaknya nasihat, melainkan dari kehadiran seorang gembala yang mencerminkan hati Kristus

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. 5.Kegagalan yg masih ada di dalam diri saya
    1.saya masih blm bisa menahan emosi
    2.saya masih belum bisa mengurangi berkata"
    3.saya masih org yang egois
    4.saya masih kurang dalam menganju orang
    5.saya masih sulit melakukan pendekatan dengan org yg tidak satu visi

    BalasHapus
  3. 5. Kegagalan dalam diri saya yaitu:
    * Selalu membandingkan diri dengan orang lain
    *Kurang disiplin sama diri sendiri
    * Terkadang suka menunda Nunda
    * Terkadang Pura pura kuat padahal tidak
    * Terkadang mau menyerah saat ada tantangan

    BalasHapus
  4. 5 kegagalan dalam hidup saya
    1. gagal karena takut mencoba hal baru
    2. gagal menabung uang
    3. gagal disiplin
    4. gagal mengontrol diri
    5. gagal manejemen waktu

    BalasHapus
  5. 5kegagalan dalam Hidupku:
    1. Cara bersikap & nada Bicara
    2.Mengeluh
    3.Sering bolong" Baca Firman
    4.Mengingat" kesalahan orang
    5.Gampng Emosi

    BalasHapus
  6. Kegagalan yang saya alami adalah :
    1. Saya pernah gagal dalam belajar menjahit
    2. saya pernah gagal dalam pergaulan
    3. saya pernah gagal dalam kekudusan
    4. saya pernah gagal dalam hal kesetiaan
    5. saya pernah gagal dalam emosional

    BalasHapus
  7. 5 Kegagalan dalam diri saya
    1. Kurang pede dlm segala hal
    2. Sulit untuk bergaul dengan orang baru
    3. Kadang susah menangkap apa yang dijelaskan.
    4. Suka lupa menyimpan barang.
    5. Gampang overthinking

    BalasHapus
  8. Kegagalan saya adalah
    Dimana saya sering kali gagal dalam ,
    1.amarah,.
    2.taat,
    3.bersungut bersungut
    4.menjaga hati
    5. Suka menunda nunda

    BalasHapus
  9. 5 kegagalan saya
    1. Buruk dalam pengelolaan waktu/ kurang disiplin dlm waktu
    2. Gagal dalam melatih talenta saya
    3. Gagal mengontrol diri supaya tdk marah
    4. Gagal untuk buat doa pribadi yang saya sudah tetapkan tapi saya melakukannya tidak tiap hari
    5. Gagal dalam hal mengntrol diri dalam sakit hati ketika saya di tegor.

    BalasHapus
  10. Gerson PANDIANGAN
    Kegagalan yang saya alami
    1. Kurang bisa mengontrol keuangan
    2. Cara bersikap kepada yang lebih dewasa terlalu berlebihan
    3. Hidup yang tidak mau kalah dengan orang lain
    4. Sering merasa gagal ketika ekspetasi dalam diri itu tidak terjadi
    5. Ceroboh yang selalu kadang hadir

    BalasHapus
  11. Bayak kegagalan yang saya halamai namun saya ingin memberi beberapa hal yang saya halami.
    1. gagal dalam kekudusan
    2. sering ingat" masa lalu
    3. gagal dalam megampuni sering simpan dendam
    4. menyesal karna dosa masa lalu
    5. rasa penggen minum minuman keras

    BalasHapus
  12. 5 kegalalan yang saya alami.

    1.mengampuni, saya selalu gagal mengampuni keluarga, terutama orang tua.
    2.pelayanan, saya gagal pelayanan 6 bulan. Karena tidak berhasil melewati semuanya.
    3.Insecure, saya selalu merasa hidup saya lebih buruk dari orang lain
    4.taat, saya selalu gagal dalam keataan
    5.jatuh ke dosa yang sama, saya jatuh ke dosa yang sama seperti, merokok dan mabuk, saat saya pelayanan ke kampung halaman saya.

    BalasHapus
  13. Kegagalan yang masih ada di dalam kehidupan saya

    1. Gagal menjaga iman ketika menghadapi suatu masalah
    2. Gagal dalam pelayanan tetapi mau terus untuk belajar menjadi lebih baik
    3. Masih gagal dalam mengandalkan Tuhan
    4.masih sering rasa khawatir muncul
    5. Bolehkah bapak mendoakan saya

    BalasHapus
  14. Target saya yang akan saya layani Tahun ini
    30 jiwa yang akan saya layani dan mendo'akan

    BalasHapus
  15. Target yang akan saya layani dalam satu tahun ini sebanyak 40 jiwa

    BalasHapus
  16. Yang akan saya layani 20 Jiwa.

    BalasHapus
  17. Komitmen saya melayani orang tanpa melihat apa yg menjadi latar belakang nya

    BalasHapus
  18. Yang saya harapkan dari konseling pastoral ialah Ruang bagi seseorang untuk mencurahkan isi hati, kekhawatiran, kepedihan, atau keraguan yang mungkin sulit dibagikan di tempat lain.

    BalasHapus
  19. Yang saya harapkan adalah saya bisa menjadi jawaban bagi orang orang yang merasakan tidak memiliki jalan keluar, membutuhkan pertolongan, Mencari jawaban,
    Dan saya menjadi wadah bagi mereka karna mereka adalah ciptaan Tuhan

    BalasHapus
  20. Yang saya harapkan lewat pastoral konseling saya dapat memahami bagaimana kondisi jemaat supaya lebih dekat kepada mereka

    BalasHapus
  21. Hal yang saya harapkan dari konseling pastoral adalah saya bisa untuk lebih memberi motivasi,kekuatan kepada orang orang yang sudah tidak tau dalam mengambil keputusan.

    BalasHapus
  22. yang saya harapkan dari konseling pastoral
    1. Ruang aman tanpa ada penghakiman
    2. Dukungan spritual

    BalasHapus
  23. saya ingin mejadi berkati bagi sesama mejadi pendegar yang baik dan memberikan solisi bagi setiap orang yang membutukan

    BalasHapus
  24. Yang saya harapkan dri konseling pastoral adalah:
    Didengarkan dengan tulus,bimbingan berdasarkan firman tuhan, kejelasan dan arah

    BalasHapus
  25. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  26. Yang saya harapkan dari konseling pastoral adalah dukungan spiritual sekaligus emosional yang berakar pada iman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bimbingan dan arahan, pendamaian ralasi, dukungan, dan penopangan

      Hapus
  27. 3. Pemulihan hubungan
    4. Pengembangan ketahan diri
    Empati

    BalasHapus
  28. Saya harap lewat konseling pastoral saya harap banyak yg terberkati

    BalasHapus
  29. Saya harap melalui pembelajaran Konseling Pastoral, saya bisa belajar memahami dan mendengarkan masalah orang lain, membantu mereka dengan kasih dan firman Tuhan tanpa menghakimi, belajar menjadi pribadi yg lebih sabar, peka terhadap perasaan orang lain, dan bisa menjaga kepercayaan
    orang yang bercerita kepada saya.

    BalasHapus
  30. yang saya harapkan dari konseling pastoral adalah 1. memperkuat pentingnya komunitas iman untuk mendukung serta menopang setiap orang.
    2.melayani semua orang
    3. menguatkan saudara
    4. menjadi sahabat
    5. membantu seseorang semakin dekat dengan Tuhan

    BalasHapus
  31. Yang saya harapkan dari Konseling Pastoral adalah pertumbuhan pribadi, pertumbuhan iman, menguatkan iman, ada perubahan dalam hidup saya, dan Rendah hati.

    BalasHapus
  32. Harapan saya :
    1. Semakin mendalami lebih lagi tentang konseling pastoral
    2. Semakin mempersiapkan saya untuk menjadi konselor yang baik
    3. Mau semakin di bimbing sejalan dengan firman Tuhan
    4. Biarlah lewat pelajaran konseling pastoral ini semakin menguatkan iman saya
    5. Semakin menambah relasi dan juga menopang orang lain dalam pelayanan konseling pastoral

    BalasHapus

Posting Komentar