TUHAN BERTAKHTA, KELUARGA KITA BELAJAR
MENYEMBAH DAN MENGANDALKAN-NYA
Shalom, apa
kabar? disayang Tuhan, disayang Tuhan, disayang Tuhan
Bacaan
Alkitab Hari Ke-309, Tahun 2026: Wahyu 4:1–11
Wahyu 4:11 “Ya
Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa;
sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu
semuanya itu ada dan diciptakan.”
Dalam Wahyu
pasal 4, Rasul Yohanes mendapat penglihatan tentang takhta Allah di surga. Ia
melihat takhta yang mulia, Dia yang duduk di atasnya, pelangi di sekeliling
takhta, serta empat makhluk hidup dan dua puluh empat tua-tua yang menyembah
Allah.
Pusat dari
penglihatan ini adalah bahwa Allah berkuasa, kudus, mulia, dan layak menerima
penyembahan dari seluruh ciptaan-Nya.
Ketika
Yohanes menerima penglihatan ini, jemaat-jemaat sedang menghadapi berbagai
tantangan. Penglihatan tentang takhta Allah mengingatkan bahwa di atas segala
kekuasaan dan keadaan dunia, Allah tetap bertakhta.
Hal ini juga
penting bagi keluarga kita. Ada kalanya kita merasa khawatir tentang ekonomi,
pekerjaan, pendidikan anak, kesehatan, dan masa depan. Persoalan tersebut dapat
membuat kita merasa seolah-olah hidup berada di luar kendali.
Namun, Wahyu
pasal 4 mengingatkan kita untuk mengarahkan pandangan kembali kepada Allah.
Keadaan kita bisa berubah, tetapi Allah tetap berkuasa dan layak kita sembah.
Tiga
Pelajaran Penting dari Wahyu Pasal 4
A.
Menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan keluarga
Yohanes
melihat sebuah takhta di surga dan Dia yang duduk di atas takhta itu. Takhta
melambangkan pemerintahan dan kuasa Allah.
Dalam
kehidupan keluarga, kita perlu bertanya: siapakah yang benar-benar menjadi
pusat kehidupan kita? Apakah Tuhan, atau justru uang, pekerjaan, kesibukan, dan
keinginan pribadi?
Ketika Tuhan
menjadi pusat keluarga, kita belajar mengambil keputusan berdasarkan
Firman-Nya, bukan hanya berdasarkan emosi atau keuntungan sesaat.
Ketika Tuhan
menjadi pusat keluarga, kita belajar menjalani kehidupan dengan arah dan
pengharapan yang benar.
B.
Menghormati kekudusan dan kemuliaan Tuhan
Empat
makhluk hidup berseru siang dan malam:
“Kudus,
kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan
yang akan datang.”
Seruan ini
menegaskan kekudusan Allah. Karena Allah kudus, kita dipanggil untuk
menghormati-Nya melalui perkataan, sikap, dan tindakan.
Dalam
keluarga, ibadah bukan hanya tentang berdoa atau menyanyikan pujian. Ibadah
juga terlihat ketika suami dan istri saling setia, orang tua berlaku adil
kepada anak, anak menghormati orang tua, dan setiap anggota keluarga menjunjung
kejujuran.
Penyembahan
yang sejati kepada Allah seharusnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
C. Belajar
bersyukur dan merendahkan hati di hadapan Tuhan
Kedua puluh
empat tua-tua tersungkur di hadapan Dia yang duduk di takhta dan meletakkan
mahkota mereka di hadapan-Nya.
Mereka
mengakui bahwa Allah layak menerima pujian, hormat, dan kuasa karena Dialah
Pencipta segala sesuatu.
Gambaran ini
mengajar kita bahwa semua yang kita miliki pada akhirnya berasal dari Allah.
Kesehatan, pekerjaan, keluarga, kemampuan, dan kesempatan hidup patut kita
syukuri.
Terkadang
keberhasilan membuat manusia menjadi sombong dan merasa semuanya diperoleh
hanya melalui kekuatannya sendiri. Wahyu pasal 4 mengajak kita untuk tetap
rendah hati.
Semua berkat
yang kita terima seharusnya membuat kita semakin bersyukur, bukan semakin
sombong.
Dari
Wahyu pasal 4, kita
belajar tiga kebenaran utama:
1.
Allah
bertakhta: Jadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan keluarga.
2.
Allah
kudus: Hormati Tuhan melalui perkataan, sikap, dan perbuatan.
3.
Allah
layak disembah: Hidup dalam kerendahan hati dan ucapan syukur.
Jangan
biarkan persoalan hidup membuat kita melupakan siapa Allah yang kita sembah.
Ketika keadaan berubah, tetaplah datang kepada-Nya. Ketika menerima berkat,
tetaplah bersyukur. Ketika berhasil, tetaplah rendah hati.
Arahkan mata
keluarga kita kepada Tuhan yang bertakhta. Sembahlah Dia dengan segenap hati,
hiduplah dalam kekudusan, dan bersyukurlah atas segala kebaikan-Nya.
Tuhan Yesus
memberkati, diberkati, diberkati, diberkati Tuhan, salam dan doa kami
#RumahDoaKeluarga
Bagi yang membutuhkan konseling/doa dapat menghubungi: Rumah Doa Keluarga (0852-5629-3956)

Wahyu 4:11 “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”
BalasHapuskemuliaan bagi Allah' yang berkuasa
BalasHapusAmin Tuhan Yesus berkati😇🙏
BalasHapusDalam keluarga, ibadah bukan hanya tentang berdoa atau menyanyikan pujian. Ibadah juga terlihat ketika suami dan istri saling setia, orang tua berlaku adil kepada anak, anak menghormati orang tua, dan setiap anggota keluarga menjunjung kejujuran.Amin
BalasHapusSembahlah Dia dengan segenap hati, hiduplah dalam kekudusan, dan bersyukurlah atas segala kebaikan-Nya, Amin.
BalasHapusHidup dalam kerendahan hati dan ucapan syukur.
BalasHapusWahyu 4:11
BalasHapus"Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."
Penyembahan yang sejati kepada Allah seharusnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
BalasHapusHal ini juga penting bagi keluarga kita. Ada kalanya kita merasa khawatir tentang ekonomi, pekerjaan, pendidikan anak, kesehatan, dan masa depan. Persoalan tersebut dapat membuat kita merasa seolah-olah hidup berada di luar kendali.
BalasHapusHal ini juga penting bagi keluarga kita. Ada kalanya kita merasa khawatir tentang ekonomi, pekerjaan, pendidikan anak, kesehatan, dan masa depan. Persoalan tersebut dapat membuat kita merasa seolah-olah hidup berada di luar kendali.
BalasHapusKetika Tuhan menjadi pusat keluarga, kita belajar mengambil keputusan berdasarkan Firman-Nya, bukan hanya berdasarkan emosi atau keuntungan sesaat.
BalasHapusJangan biarkan persoalan hidup membuat kita melupakan siapa Allah yang kita sembah. Ketika keadaan berubah, tetaplah datang kepada-Nya
BalasHapusHal ini juga penting bagi keluarga kita. Ada kalanya kita merasa khawatir tentang ekonomi, pekerjaan, pendidikan anak, kesehatan, dan masa depan. Persoalan tersebut dapat membuat kita merasa seolah-olah hidup berada di luar kendali.
BalasHapusJangan biarkan persoalan hidup membuat kita melupakan siapa Allah yang kita sembah. Ketika keadaan berubah, tetaplah datang kepada-Nya
BalasHapus