TERIMA SEPERTI MENERIMA SAUDARA
Shalom, apa
kabar? disayang Tuhan, disayang Tuhan, disayang Tuhan
Bacaan
Alkitab Hari Ke-281, Tahun 2026: Efesus 2-5
Filemon
1:16–17 “Bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu
sebagai saudara yang kekasih...” (Filemon 1:16)
Surat
Filemon membawa kita kepada sebuah perubahan relasi yang sangat penting.
Filemon dan
Onesimus memiliki masa lalu yang tidak mudah. Ada persoalan yang membuat
hubungan mereka rusak. Tetapi ketika Onesimus mengalami perubahan melalui
Kristus, Paulus meminta Filemon untuk melihatnya dengan cara yang baru.
Paulus
berkata agar Filemon menerima Onesimus:
“bukan
lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang
kekasih.”
Perhatikan
kata “saudara.”
Paulus sedang membawa Filemon untuk melihat Onesimus bukan hanya berdasarkan status, masa lalu, atau kesalahannya, tetapi berdasarkan hubungan baru yang mereka miliki di dalam Kristus. Inilah salah satu kekuatan Injil: Kristus mengubah cara kita memandang orang lain.
1.
Menerima Bukan Berarti Membenarkan Semua Perbuatan
Kita perlu
memahami arti “menerima” dengan benar.
Menerima seseorang bukan berarti mengatakan: “Semua yang kamu lakukan benar.”
Bukan pula berarti: “Kesalahan masa lalumu tidak penting.”
Paulus
justru menunjukkan bahwa ada persoalan yang perlu diselesaikan.
Menerima berarti: “Saya tetap melihat nilai dirimu sebagai manusia dan sebagai saudara, sekalipun ada hal dalam hidupmu yang perlu dibereskan.”
Ini sangat
penting dalam keluarga.
Kita dapat
mengatakan kepada anak:
“Perbuatanmu
salah, tetapi kamu tetap anak yang kami kasihi.”
Kita dapat
mengatakan kepada pasangan:
“Saya
tidak menyetujui tindakanmu, tetapi saya tidak akan merendahkan dirimu.”
Ada
perbedaan besar antara menolak perbuatan yang salah dan menolak
pribadi seseorang.
2.
Kristus Mengubah Cara Kita Melihat Keluarga
Kadang-kadang
kita lebih mudah melihat kekurangan anggota keluarga daripada kebaikannya.
Kita tahu
kebiasaannya.
Kita tahu
kelemahannya.
Kita tahu
kesalahannya.
Karena hidup
bersama setiap hari, kita bahkan bisa menjadi terlalu terbiasa dengan
kekurangan mereka.
Akibatnya,
kita berhenti melihat mereka sebagai pribadi yang berharga.
Surat
Filemon mengingatkan kita untuk melihat melalui perspektif Kristus.
Ketika kita melihat keluarga melalui kasih Kristus, kita mulai berkata: “Dia bukan sekadar orang yang sering membuat saya kesal.” “Dia adalah pribadi yang Tuhan kasihi.” “Dia adalah bagian dari keluarga yang Tuhan percayakan kepada saya.” Perspektif ini dapat mengubah suasana rumah.
3.
“Saudara yang Kekasih”
Paulus tidak
hanya mengatakan bahwa Onesimus adalah saudara.
Ia mengatakan: “saudara yang kekasih.”
Ada kasih di
dalam hubungan tersebut.
Ini berarti
hubungan Kristen bukan hanya tentang status, tetapi tentang cara kita
memperlakukan satu sama lain.
Dalam
keluarga, kita dapat tinggal serumah tetapi jauh secara hati.
Kita bisa
makan bersama tetapi tidak pernah benar-benar mendengarkan.
Kita dapat
berbicara setiap hari tetapi perkataan kita selalu berupa kritik.
Karena itu,
keluarga perlu belajar kembali mengatakan:
“Kamu
penting bagi saya.”
“Saya
menghargai kamu.”
“Saya
bersyukur Tuhan memberikanmu dalam hidup saya.”
Kasih perlu diucapkan
dan diwujudkan.
4.
Menerima Berarti Memberikan Ruang
Ketika
Paulus meminta Filemon menerima Onesimus, ia sedang meminta Filemon memberikan
ruang bagi sebuah hubungan yang dipulihkan.
Demikian
juga dalam keluarga.
Ada kalanya
seseorang membutuhkan kesempatan kedua.
Ada yang
sedang belajar berubah.
Ada yang
sedang belajar mengendalikan emosinya.
Ada yang
sedang belajar bertanggung jawab.
Ada yang
sedang belajar meminta maaf.
Jika setiap
kesalahan langsung membuat seseorang kehilangan tempat di hati keluarga, maka
rumah tidak lagi menjadi tempat pemulihan.
Keluarga
seharusnya menjadi tempat di mana seseorang dapat berkata:
“Saya
melakukan kesalahan, tetapi saya masih memiliki kesempatan untuk
memperbaikinya.”
5.
Penerimaan Harus Berjalan Bersama Kebenaran
Menerima
seseorang bukan berarti tidak memiliki batas.
Kasih yang
sehat tetap membutuhkan kebenaran dan tanggung jawab.
Jika
seseorang melakukan kesalahan, ia perlu mengakuinya.
Jika ada
kerugian, perlu ada usaha untuk memperbaikinya.
Jika
kepercayaan rusak, perlu ada proses untuk membangunnya kembali.
Jadi:
Penerimaan
memberikan harapan.
Kebenaran
memberikan arah.
Tanggung
jawab membangun kedewasaan.
Kasih
memberikan kekuatan untuk menjalani proses.
Itulah
penerimaan yang dewasa.
6.
Bagaimana Jika Kita Sulit Menerima?
Mungkin ada
anggota keluarga yang pernah sangat mengecewakan kita.
Mungkin kita
sudah berkali-kali terluka.
Mungkin kita
berkata:
“Saya
sulit mempercayainya lagi.”
Perasaan
seperti itu perlu diakui.
Penerimaan
tidak harus berarti langsung memberikan kepercayaan penuh.
Kepercayaan
dapat dibangun kembali secara bertahap melalui tindakan yang konsisten.
Namun kita
dapat memulai dengan satu langkah:
berhenti
merendahkan orang tersebut dan mulai melihatnya sebagai manusia yang
membutuhkan kasih karunia Tuhan.
Kita dapat
menyerahkan proses pemulihan kepada Tuhan sambil tetap mengambil langkah yang
bijaksana.
Menerima
seseorang bukan berarti membenarkan kesalahannya; menerima berarti tetap
melihat nilainya sebagai pribadi yang dikasihi Tuhan dan memberikan ruang
baginya untuk bertumbuh.
Tuhan Yesus
memberkati, diberkati, diberkati, diberkati Tuhan, salam dan doa kami
#RumahDoaKeluarga
Bagi yang
membutuhkan konseling/doa dapat menghubungi: Rumah Doa
Keluarga (0852-5629-3956)

Filemon 1:16–17 “Bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih...” (Filemon 1:16)
BalasHapusFilemon 1:16–17 “Bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih...” (Filemon 1:16)
BalasHapusAyat Hari Ini
BalasHapusFilemon 1:16–17 “Bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih...” (Filemon 1:16)
Menerima seseorang bukan berarti mengatakan: “Semua yang kamu lakukan benar
BalasHapusJika setiap kesalahan langsung membuat seseorang kehilangan tempat di hati keluarga, maka rumah tidak lagi menjadi tempat pemulihan.
BalasHapusRaja::Menerima seseorang bukan berarti membenarkan kesalahannya; menerima berarti tetap melihat nilainya sebagai pribadi yang dikasihi Tuhan dan memberikan ruang baginya untuk bertumbuh.
BalasHapusbukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih.”
BalasHapusFilemon 1:16–17 “Bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih...” (Filemon 1:16)
BalasHapusTuhan Yesus memberkati, diberkati, diberkati, diberkati Tuhan, salam dan doa kami #RumahDoaKeluarga Gbu
BalasHapusMenurut saya, menerima seseorang berarti tetap menghargai dan mengasihinya sebagai pribadi, sambil memberi kesempatan untuk berubah dan memperbaiki kesalahan.
BalasHapusMenurut saya, menerima seseorang berarti tetap menghargai dan mengasihinya sebagai pribadi, sambil memberi kesempatan untuk berubah dan memperbaiki kesalahan.
BalasHapusGalang Lubis
BalasHapusFilemon dan Onesimus memiliki masa lalu yang tidak mudah. Ada persoalan yang membuat hubungan mereka rusak. Tetapi ketika Onesimus mengalami perubahan melalui Kristus, Paulus meminta Filemon untuk melihatnya dengan cara yang baru.
Menerima seseorang bukan berarti membenarkan kesalahannya; menerima berarti tetap melihat nilainya sebagai pribadi yang dikasihi Tuhan dan memberikan ruang baginya untuk bertumbuh.
BalasHapus“saudara yang kekasih.”
BalasHapusAda kasih di dalam hubungan tersebut.
CHRISTIAN RICARDO LUBIS
BalasHapusKita dapat menyerahkan proses pemulihan kepada Tuhan sambil tetap mengambil langkah yang bijaksana.
Filemon 1:16–17 “Bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih...”
BalasHapusMenerima seseorang bukan berarti membenarkan kesalahannya; menerima berarti tetap melihat nilainya sebagai pribadi yang dikasihi Tuhan dan memberikan ruang baginya untuk bertumbuh.
BalasHapusFilemon dan Onesimus memiliki masa lalu yang tidak mudah. Ada persoalan yang membuat hubungan mereka rusak.
BalasHapusFilemon dan Onesimus memiliki masa lalu yang tidak mudah. Ada persoalan yang membuat hubungan mereka rusak.
BalasHapusEkarawaty Lumbantoruan
BalasHapusFilemon 1:16-17 "Bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih... "
Filemon 1:16–17 “Bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih...” (Filemon 1:16)
BalasHapusMenerima seseorang bukan berarti mengatakan: “Semua yang kamu lakukan benar.”
BalasHapusFilemon 1:16–17 “Bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih...” (Filemon 1:16)
BalasHapusFilemon 1:16–17 “Bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih...” (Filemon 1:16)
BalasHapusberhenti merendahkan orang tersebut dan mulai melihatnya sebagai manusia yang membutuhkan kasih karunia Tuhan.
BalasHapusAda perbedaan besar antara menolak perbuatan yang salah dan menolak pribadi seseorang.
BalasHapusFilemon 1:16–17 “Bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih..
BalasHapus