MEMAAFKAN BUKAN BERARTI MENGABAIKAN KEADILAN
Shalom, apa
kabar? disayang Tuhan, disayang Tuhan, disayang Tuhan
Bacaan Alkitab Hari Ke-279, Tahun 2026: 2 Korintus 13, Galatia 1-3
Filemon
1:13–14 “Tetapi tanpa persetujuanmu aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang
baik itu jangan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.” (Filemon
1:14)
Hubungan
Filemon dan Onesimus memperlihatkan bahwa pengampunan tidak selalu berarti
persoalan selesai tanpa proses.
Onesimus
memiliki masa lalu yang bermasalah dengan Filemon. Kemudian ia bertemu dengan
Paulus dan mengalami perubahan hidup. Paulus ingin Onesimus tetap bersamanya
karena Onesimus telah menjadi berguna dalam pelayanan. Namun Paulus tidak
mengambil keputusan sepihak.
Paulus
berkata kepada Filemon bahwa ia sebenarnya dapat meminta atau bahkan
memerintahkan Filemon untuk melakukan sesuatu. Tetapi Paulus memilih untuk
meminta dengan kasih dan memberikan ruang bagi Filemon untuk mengambil
keputusan secara sukarela.
Di sinilah kita menemukan prinsip penting: Pengampunan tidak menghapus kebutuhan akan kebenaran, tanggung jawab, dan pemulihan.
1. Paulus
Tidak Mengabaikan Persoalan
Paulus tidak
mengatakan: “Lupakan saja apa yang telah terjadi.” Paulus juga tidak
berkata: “Karena Onesimus sudah menjadi orang percaya, maka semua persoalan
masa lalu tidak penting.”
Sebaliknya,
Paulus membawa Onesimus kembali kepada Filemon.
Ini
menunjukkan bahwa pertobatan tidak hanya berbicara tentang hubungan seseorang
dengan Tuhan, tetapi juga dapat membawa seseorang untuk menghadapi hubungan
yang pernah rusak.
Kesalahan
perlu dibereskan. Jika
seseorang telah menyakiti orang lain, maka pengampunan bukan alasan untuk
menghindari tanggung jawab.
2. Paulus
Menghormati Filemon
Hal yang
menarik dalam ayat 14 adalah Paulus berkata: “Tanpa persetujuanmu aku tidak
mau berbuat sesuatu.”
Paulus
menghormati Filemon sebagai orang yang memiliki hak untuk mengambil keputusan.
Ini
menunjukkan bahwa kasih tidak menggunakan tekanan untuk menghasilkan
rekonsiliasi.
Paulus tidak
berkata: “Kamu orang Kristen, jadi kamu harus langsung menerimanya.”
Sebaliknya, ia memberikan ruang bagi Filemon untuk merespons dengan hati yang rela. Dalam keluarga, prinsip ini sangat penting.
Kadang-kadang
kita ingin persoalan segera selesai sehingga kita berkata: “Sudahlah,
lupakan saja!”
Padahal hati seseorang mungkin belum selesai memproses luka yang dialaminya. Pengampunan tidak boleh dipaksakan secara emosional. Kita dapat mengajarkan pentingnya mengampuni, tetapi kita juga perlu memberikan ruang bagi proses pemulihan.
3.
Mengampuni Tidak Sama dengan Mengatakan “Tidak Ada Masalah”
Pengampunan
sering disalahpahami. Mengampuni bukan berarti mengatakan: “Apa yang kamu
lakukan tidak salah.”
Pengampunan
juga bukan berarti: “Saya harus membiarkan kamu melakukan hal yang sama
lagi.”
Dan
pengampunan bukan berarti: “Saya harus langsung percaya sepenuhnya seperti
sebelum masalah terjadi.”
Pengampunan
berarti kita memilih untuk tidak hidup dalam kebencian dan pembalasan, sambil
tetap dapat mengambil langkah yang bijaksana untuk menyelesaikan persoalan dan
membangun kembali kepercayaan.
Pengampunan
dapat berjalan bersama batas yang sehat, pertobatan, dan tanggung jawab.
4. Dalam
Keluarga, Pengampunan Membutuhkan Kejujuran
Bayangkan
seorang anak melakukan kesalahan. Orang tua berkata: “Mama dan Papa
mengampuni kamu.” Tetapi bukan berarti orang tua berkata: “Jadi tidak
ada konsekuensi apa pun.”
Anak tetap
perlu belajar bertanggung jawab. Demikian pula antara suami dan istri. Ketika
terjadi kesalahan, mengatakan “Saya mengampuni” bukan berarti persoalan
komunikasi tidak perlu dibicarakan.
Kadang-kadang
pemulihan membutuhkan: pengakuan → permintaan maaf → tanggung jawab →
perubahan → membangun kembali kepercayaan.
Pengampunan
membuka pintu pemulihan, tetapi kepercayaan sering kali perlu dibangun
kembali melalui proses dan tindakan yang konsisten.
5. Kasih
dan Keadilan Tidak Harus Bertentangan
Kasih bukan lawan dari keadilan. Justru kasih yang dewasa berani mengatakan: “Apa yang terjadi memang salah.” Tetapi pada saat yang sama berkata: “Saya tidak akan membalas kesalahanmu dengan kebencian.”
Inilah yang perlu dipelajari keluarga. Kita tidak perlu memilih antara: kasih tanpa kebenaran atau kebenaran tanpa kasih. Keluarga Kristen dipanggil untuk belajar melakukan keduanya. Tegas terhadap kesalahan, tetapi tetap mengasihi orangnya.
Mengampuni
bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan itu benar; mengampuni berarti memilih
kasih sambil tetap memberi ruang bagi kebenaran, tanggung jawab, dan pemulihan.
Tuhan Yesus
memberkati, diberkati, diberkati, diberkati Tuhan, salam dan doa kami
#RumahDoaKeluarga
Bagi yang
membutuhkan konseling/doa dapat menghubungi: Rumah Doa
Keluarga (0852-5629-3956)

Pengampunan dapat berjalan bersama batas yang sehat, pertobatan, dan tanggung jawab.
BalasHapus