KESALAHAN TIDAK HARUS MENJADI AKHIR
Shalom, apa
kabar? disayang Tuhan, disayang Tuhan, disayang Tuhan
Bacaan
Alkitab Hari Ke-280, Tahun 2026: Galatia 4-6, Efesus 1
Filemon
1:15–16 “Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya
engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba,
melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih...”
Kisah
Filemon dan Onesimus adalah kisah tentang masa lalu, perubahan, dan
kesempatan untuk memulai kembali.
Onesimus
pernah memiliki persoalan dengan Filemon. Ia kemudian pergi dan akhirnya
bertemu dengan Paulus. Dalam perjumpaan itu, hidup Onesimus mengalami
perubahan.
Paulus tidak
menyangkal apa yang telah terjadi. Tetapi Paulus melihat bahwa kesalahan
masa lalu tidak harus menjadi akhir dari kehidupan Onesimus.
Ada sesuatu
yang baru sedang terjadi. Paulus meminta Filemon untuk melihat Onesimus bukan
hanya berdasarkan siapa dia dahulu, tetapi juga berdasarkan siapa dia sekarang
sebagai seorang saudara dalam Kristus.
Inilah
kekuatan kasih dan Injil: Masa lalu seseorang dapat menjadi bagian dari
ceritanya, tetapi tidak harus menjadi akhir dari ceritanya.
1.
“Dipisahkan Sejenak” Membuka Perspektif Baru
Paulus
menggunakan ungkapan bahwa Onesimus mungkin “dipisahkan sejenak” dari Filemon.
Ini bukan
berarti Paulus sedang mengatakan bahwa apa yang terjadi sebelumnya otomatis
menjadi benar.
Yang Paulus
lakukan adalah melihat keadaan itu dari perspektif karya Allah.
Sesuatu yang
buruk telah terjadi, tetapi Tuhan dapat bekerja bahkan di tengah keadaan yang
tidak ideal.
Onesimus
pergi sebagai seseorang yang memiliki masalah.
Ia kembali
sebagai seseorang yang telah mengalami perubahan.
Di sini kita
belajar:
Tuhan
dapat membawa seseorang dari kegagalan menuju pertumbuhan.
2.
Kesalahan Tidak Sama dengan Identitas
Onesimus
pernah melakukan sesuatu yang menjadi persoalan bagi Filemon. Tetapi Paulus
tidak memperkenalkan Onesimus hanya berdasarkan kesalahannya.
Ia menyebut Onesimus: “anakku” (ayat 10), dan kemudian: “saudara yang kekasih” (ayat 16).
Perhatikan
perubahan cara memandang seseorang. Dunia dapat berkata: “Dia adalah orang
yang pernah melakukan kesalahan.”
Kasih
Kristus berkata: “Dia adalah manusia yang sedang mengalami karya Tuhan dan
memiliki kesempatan untuk berubah.”
Ini bukan berarti kesalahannya dihapus dari sejarah. Tetapi kesalahannya tidak lagi menjadi satu-satunya identitasnya.
3.
Keluarga Harus Menjadi Tempat Pertumbuhan
Setiap orang dalam keluarga pernah melakukan kesalahan. Anak dapat salah. Orang tua dapat salah. Suami dapat salah. Istri dapat salah. Kita semua membutuhkan kasih karunia. Masalahnya bukan apakah keluarga pernah melakukan kesalahan.
Masalahnya adalah: Apa yang keluarga lakukan setelah kesalahan terjadi? Apakah kita terus mengungkitnya? Apakah kita memberi label?
Apakah kita
mengatakan: “Kamu memang tidak akan pernah berubah.” Atau kita berkata: “Kesalahanmu
harus dibereskan, tetapi kami percaya kamu dapat bertumbuh.”
Keluarga
Kristen seharusnya menjadi tempat di mana seseorang dapat mengalami teguran
sekaligus harapan.
4.
Memberikan Kesempatan Bukan Berarti Mengabaikan Tanggung Jawab
Filemon diminta menerima Onesimus sebagai saudara. Namun penerimaan tidak berarti semua persoalan masa lalu harus diabaikan. Ada proses pemulihan yang perlu dijalani. Inilah keseimbangan yang penting: Kasih memberikan kesempatan.
Kebenaran
meminta pertanggungjawaban. Pertobatan menghasilkan perubahan. Waktu membuktikan
konsistensi.
Karena itu,
ketika seseorang dalam keluarga melakukan kesalahan, jangan hanya berkata: “Tidak
apa-apa.”
Jika memang
salah, katakan dengan kasih: “Ini salah, tetapi kamu masih memiliki
kesempatan untuk memperbaikinya.”
Kalimat
seperti ini memberikan dua hal yang sangat dibutuhkan seseorang: kebenaran
dan harapan.
5. Jangan
Mengurung Seseorang dalam Masa Lalunya
Salah satu
hal yang dapat menghancurkan hubungan keluarga adalah terus menggunakan
kesalahan lama sebagai senjata.
Ketika
seseorang sudah berubah, tetapi kesalahannya terus diungkit, ia dapat merasa
bahwa perubahan dirinya tidak pernah dihargai.
Misalnya: “Kamu
dulu pernah melakukan itu.” “Saya tahu kamu memang seperti itu.” “Percuma
kamu berubah.”
Kata-kata
seperti ini dapat menutup pintu pertumbuhan. Tentu saja, kehati-hatian tetap
diperlukan. Kepercayaan tidak selalu pulih dalam satu hari.
Tetapi
jangan menutup kemungkinan bahwa seseorang benar-benar dapat berubah. Berikan
ruang bagi pertumbuhan untuk dibuktikan melalui kehidupan.
6.
Onesimus: Dari Masalah Menjadi Saudara
Inilah
perubahan yang sangat indah dalam surat Filemon. Dahulu Onesimus mempunyai
masalah dengan Filemon. Sekarang Paulus meminta Filemon menerimanya: “bukan
lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang
kekasih.”
Injil
membawa perubahan dalam cara manusia memandang satu sama lain. Filemon tidak
diminta hanya melihat:
“Apa yang
pernah dilakukan Onesimus kepadaku?” Tetapi juga: “Apa yang Kristus sedang kerjakan dalam diri
Onesimus?”
Inilah
pertanyaan yang juga perlu kita bawa ke dalam keluarga: “Apakah saya hanya
melihat kesalahan anggota keluarga saya, atau saya juga melihat karya Tuhan
yang sedang mengubah hidupnya?”
Kesalahan
adalah bagian dari masa lalu, tetapi kasih karunia Tuhan membuka kesempatan
untuk menjalani masa depan yang baru.
Tuhan Yesus
memberkati, diberkati, diberkati, diberkati Tuhan, salam dan doa kami
#RumahDoaKeluarga
Bagi yang
membutuhkan konseling/doa dapat menghubungi: Rumah Doa
Keluarga (0852-5629-3956)
%20(1).png)
Komentar
Posting Komentar