HIDUP DALAM PENGUASAAN DIRI DAN KESALEHAN
Shalom, apa
kabar? disayang Tuhan, disayang Tuhan, disayang Tuhan
Bacaan
Alkitab Hari Ke-295, Tahun 2026: 1 Petrus 4-5, 2 Petrus 1-2
Titus 2:6–10
Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia
mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan
duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia
sekarang ini - Titus 2:11–12
Tidak
Semua Keinginan Harus Dituruti
Kita hidup
di tengah dunia yang sering mendorong orang untuk mengikuti keinginan hati
tanpa memikirkan akibatnya. Ketika marah, seseorang dapat melontarkan kata-kata
yang menyakitkan. Ketika menginginkan sesuatu, ia dapat memaksakan kehendak.
Ketika menghadapi kesulitan, ia mungkin memilih jalan pintas daripada melakukan
hal yang benar.
Karena itu,
penguasaan diri menjadi bagian penting dalam kehidupan orang percaya.
Penguasaan
diri bukan berarti kita tidak boleh memiliki keinginan atau perasaan. Kita
boleh merasa kecewa, marah, sedih, dan memiliki cita-cita. Namun, kita perlu
belajar mengelola perasaan dan keinginan agar tidak menguasai keputusan kita.
Dalam Titus
2:6–10, Paulus menasihati berbagai kelompok orang percaya untuk hidup
bijaksana, menjadi teladan dalam perbuatan baik, berkata-kata dengan benar, dan
menunjukkan kesetiaan dalam tanggung jawab.
Kemudian,
Titus 2:11–12 menjelaskan dasar dari kehidupan tersebut: kasih karunia Allah
telah nyata dan mendidik kita untuk meninggalkan kefasikan serta keinginan
duniawi, lalu hidup bijaksana, adil, dan saleh.
Artinya,
kita tidak berjuang sendirian untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kasih
karunia Tuhan bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga mendidik dan membentuk
kehidupan kita.
Penguasaan
diri adalah kemampuan untuk memilih tindakan yang benar, sekalipun keinginan
kita mengarah kepada hal yang berbeda.
Tiga
Kebenaran tentang Penguasaan Diri dan Kesalehan
A.
Penguasaan diri dimulai dari kemampuan mengelola keinginan
Titus 2:6
secara khusus menasihati orang-orang muda agar menguasai diri. Namun, prinsip
ini berguna bagi setiap anggota keluarga, tanpa memandang usia.
Kita perlu
belajar mengenali apa yang sedang kita rasakan dan memikirkan akibat dari
tindakan kita.
Ketika
marah, kita dapat memilih untuk berhenti sejenak sebelum berbicara. Ketika
menginginkan sesuatu, kita dapat mempertimbangkan apakah hal itu benar-benar
diperlukan. Ketika tergoda mengambil jalan pintas, kita dapat mengingat nilai
kejujuran.
Penguasaan
diri bukan berarti menekan semua emosi. Penguasaan diri berarti merespons emosi
dengan cara yang bertanggung jawab.
Orang
yang mampu menguasai diri tidak membiarkan perasaan sesaat menentukan seluruh
tindakannya.
B.
Kesalehan terlihat dalam tanggung jawab sehari-hari
Dalam Titus
2:7–10, Paulus menekankan keteladanan dalam perbuatan baik, perkataan yang
sehat, dan kesetiaan dalam menjalankan tanggung jawab.
Kesalehan
bukan hanya terlihat ketika seseorang berdoa, beribadah, atau melayani di
gereja. Kesalehan juga terlihat ketika ia bekerja dengan jujur, memenuhi janji,
menghormati orang lain, dan melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh.
Dalam
keluarga, kita tidak dapat memisahkan kehidupan rohani dari kehidupan
sehari-hari.
Jika kita
berdoa memohon pertolongan Tuhan, kita juga perlu menjalankan tanggung jawab
dengan setia. Jika kita mengaku mengasihi Tuhan, kita perlu memperlakukan
anggota keluarga dengan hormat. Jika kita belajar tentang kebenaran, kita harus
berusaha berkata jujur.
Kesalehan
yang sejati terlihat ketika iman kepada Tuhan membentuk cara kita menjalani
kehidupan.
C. Kasih
karunia Tuhan mendidik kita untuk hidup benar
Titus
2:11–12 mengingatkan bahwa kasih karunia Allah mendidik kita untuk meninggalkan
kehidupan yang tidak benar dan menjalani hidup dengan bijaksana, adil, serta
saleh.
Kita perlu
memahami bahwa perubahan karakter bukan usaha untuk membeli kasih Tuhan. Kita
belajar hidup benar karena Tuhan telah lebih dahulu mengasihi kita dan
memberikan kasih karunia-Nya.
Ketika kita
gagal menguasai diri, jangan menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk
menyerah. Datanglah kepada Tuhan, akui kesalahan, mintalah hikmat, dan lakukan
langkah nyata untuk memperbaikinya.
Kasih
karunia Tuhan mengajarkan kita untuk tidak membenarkan kesalahan, tetapi juga
tidak kehilangan pengharapan untuk berubah.
Kita dapat
bertumbuh melalui doa, firman Tuhan, nasihat yang bijaksana, dan dukungan
keluarga yang saling menguatkan.
Bayangkan
sebuah kendaraan yang memiliki mesin kuat, tetapi remnya tidak berfungsi dengan
baik. Kendaraan itu mungkin dapat melaju cepat, tetapi akan sulit dikendalikan
ketika menghadapi tikungan atau jalan yang menurun.
Kekuatan
mesin saja tidak cukup. Kendaraan juga membutuhkan kemampuan untuk mengatur
kecepatan dan berhenti pada saat yang tepat.
Demikian
pula dengan kehidupan kita. Memiliki kemampuan, semangat, cita-cita, dan
keinginan bukanlah sesuatu yang salah. Namun, semuanya perlu disertai
penguasaan diri.
Kepandaian
tanpa penguasaan diri dapat digunakan untuk menipu. Keberanian tanpa penguasaan
diri dapat berubah menjadi tindakan gegabah. Keinginan untuk berhasil tanpa
penguasaan diri dapat membuat seseorang menghalalkan segala cara.
Penguasaan
diri menolong kita menentukan kapan harus bertindak, kapan harus menunggu,
kapan harus berbicara, dan kapan harus menahan diri.
Kehidupan
yang bijaksana bukan hanya tentang kemampuan untuk maju, tetapi juga tentang
kemampuan untuk berhenti ketika sesuatu tidak benar.
Penguasaan
diri bukan berarti kita tidak memiliki keinginan, melainkan kita memilih untuk
tidak diperbudak oleh keinginan.
Hidup dalam
penguasaan diri berarti belajar memilih yang benar. Hidup dalam kesalehan
berarti menjalani pilihan itu sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan.
Tuhan Yesus
memberkati, diberkati, diberkati, diberkati Tuhan, salam dan doa kami
#RumahDoaKeluarga
Bagi yang
membutuhkan konseling/doa dapat menghubungi: Rumah Doa
Keluarga (0852-5629-3956)

Kehidupan yang bijaksana bukan hanya tentang kemampuan untuk maju, tetapi juga tentang kemampuan untuk berhenti ketika sesuatu tidak benar.
BalasHapus