WASPADA TERHADAP AJARAN YANG
MENYESATKAN
Shalom, apa
kabar? disayang Tuhan, disayang Tuhan, disayang Tuhan
Bacaan
Alkitab Hari Ke-293, Tahun 2026: Yakobus 1-4
Titus
1:10–16 "Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan
bagi orang tidak beriman suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun
suara hati mereka najis. Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan
perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak
sanggup berbuat sesuatu yang baik." - Titus 1:15–16
Tidak
Semua yang Terdengar Benar adalah Kebenaran
Kita hidup
di tengah dunia yang dipenuhi berbagai informasi, pendapat, nasihat, dan
ajaran. Melalui media sosial, video, percakapan, bahkan lingkungan pergaulan,
kita dapat menerima banyak hal yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak.
Sebagian
informasi membawa manfaat, tetapi sebagian lainnya dapat menyesatkan. Ada
perkataan yang terdengar rohani, tetapi tidak sesuai dengan firman Tuhan. Ada
pula orang yang berbicara tentang kebenaran, tetapi kehidupannya tidak
mencerminkan apa yang diajarkannya.
Karena itu,
keluarga Kristen perlu belajar bersikap bijaksana. Kita tidak boleh langsung
mempercayai segala sesuatu hanya karena disampaikan dengan meyakinkan,
menggunakan ayat Alkitab, atau mengatasnamakan Tuhan.
Dalam Titus
1:10–16, Rasul Paulus memperingatkan Titus tentang orang-orang yang menyebarkan
ajaran yang tidak sehat dan menyesatkan. Mereka bukan hanya memengaruhi pikiran
orang lain, tetapi juga dapat merusak kehidupan keluarga dan persekutuan
jemaat.
Paulus
menunjukkan bahwa kebenaran tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang benar.
Pengakuan iman harus sejalan dengan tindakan.
Keluarga
yang kuat dalam iman bukan keluarga yang mudah mempercayai semua perkataan,
melainkan keluarga yang belajar menguji setiap ajaran berdasarkan firman Tuhan
dan buah kehidupannya.
3. Tiga Kebenaran Penting dari Titus 1:10–16
A.
Waspadai ajaran yang menjauhkan kita dari kebenaran Tuhan
Dalam Titus
1:10–11, Paulus memperingatkan Titus tentang orang-orang yang menyebarkan
ajaran yang menyesatkan dan mengacaukan iman orang lain.
Peringatan
ini mengingatkan kita bahwa sebuah ajaran perlu dinilai berdasarkan isi dan
dampaknya, bukan hanya berdasarkan kepandaian orang yang menyampaikannya.
Ajaran yang
menyesatkan dapat membuat orang lebih mengutamakan kepentingan pribadi,
mengejar keuntungan yang tidak benar, atau mengabaikan kasih dan kebenaran.
Dalam
kehidupan sehari-hari, kita perlu berhati-hati terhadap pesan yang
memutarbalikkan firman Tuhan, menjanjikan sesuatu tanpa dasar yang benar, atau
menggunakan rasa takut untuk mengendalikan orang lain.
Namun,
kewaspadaan bukan berarti kita harus mencurigai semua orang atau langsung
menghakimi mereka yang berbeda pendapat. Kita perlu memeriksa ajaran dengan
teliti, memahami konteks, dan berdiskusi secara bijaksana.
B. Jagalah hati dan pikiran tetap berpegang pada firman Tuhan
Titus 1:15
mengingatkan tentang pentingnya kemurnian. Ayat ini tidak berarti bahwa kita
boleh menganggap semua hal benar menurut keinginan sendiri. Sebaliknya, kita
perlu memiliki hati dan pikiran yang dibentuk oleh kebenaran Allah.
Apa yang
terus-menerus kita dengar dan percayai dapat memengaruhi sikap kita. Jika kita
terbiasa mendengarkan perkataan yang penuh kebencian, kita dapat menjadi mudah
menghakimi. Jika kita terus-menerus mengikuti ajaran yang mengutamakan
keserakahan, kita dapat kehilangan rasa cukup dan kepedulian kepada sesama.
Sebaliknya,
ketika kita memenuhi pikiran dengan firman Tuhan, kita belajar mengasihi,
mengampuni, hidup jujur, dan bertindak dengan hikmat.
Karena itu,
menjaga iman juga berarti bijaksana dalam memilih bacaan, tontonan, percakapan,
dan sumber pengajaran rohani.
C. Iman
yang benar harus terlihat dalam perbuatan
Titus 1:16
memberikan peringatan yang tegas: seseorang dapat mengaku mengenal Allah,
tetapi perbuatannya justru menyangkal pengakuan tersebut.
Ini
merupakan pemeriksaan penting bagi setiap orang percaya. Kita tidak cukup hanya
mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan. Kasih itu perlu terlihat dalam cara kita
memperlakukan keluarga, menjalankan tanggung jawab, menggunakan perkataan, dan
mengambil keputusan.
Di dalam
keluarga, jangan sampai kita rajin mengingatkan orang lain tentang firman
Tuhan, tetapi tidak bersedia menerapkannya pada diri sendiri.
Ketika
melakukan kesalahan, kita perlu berani mengakuinya. Ketika menyampaikan
nasihat, kita perlu berusaha menjalankannya. Ketika mengajarkan kasih, kita
perlu memperlakukan orang lain dengan kasih.
Bayangkan
sebuah keluarga yang mengambil air untuk diminum. Air itu terlihat jernih dari
luar, tetapi ternyata telah tercemar. Jika keluarga hanya menilai berdasarkan
penampilan, mereka dapat menganggap air tersebut aman.
Untuk
mengetahui kualitas air, diperlukan pemeriksaan yang tepat.
Demikian
juga dengan ajaran yang kita dengar. Sesuatu yang tampak menarik, terdengar
meyakinkan, atau disampaikan dengan bahasa rohani belum tentu benar.
Kita perlu
memeriksanya dengan firman Tuhan, memahami maksudnya secara utuh, dan
memperhatikan apakah ajaran tersebut menghasilkan kehidupan yang sesuai dengan
karakter Kristus.
Firman Tuhan
menjadi pedoman bagi kita untuk mengenali kebenaran, bukan alat untuk menyerang
atau merendahkan orang lain.
Jangan
menilai kebenaran hanya dari indahnya perkataan; ujilah ajaran dengan firman
Tuhan dan perhatikan buahnya dalam kehidupan
Jangan hanya bertanya, “Apakah yang saya dengar terdengar benar?” Bertanyalah juga, “Apakah hal ini sesuai dengan firman Tuhan, dan apakah hidup saya menunjukkan kebenaran yang saya percayai?”
Tuhan Yesus
memberkati, diberkati, diberkati, diberkati Tuhan, salam dan doa kami
#RumahDoaKeluarga
Bagi yang
membutuhkan konseling/doa dapat menghubungi: Rumah Doa
Keluarga (0852-5629-3956)

Ketika melakukan kesalahan, kita perlu berani mengakuinya. Ketika menyampaikan nasihat, kita perlu berusaha menjalankannya. Ketika mengajarkan kasih, kita perlu memperlakukan orang lain dengan kasih.
BalasHapusFirman Tuhan menjadi pedoman bagi kita untuk mengenali kebenaran, bukan alat untuk menyerang atau merendahkan orang lain.
BalasHapusKeluarga yang kuat dalam iman bukan keluarga yang mudah mempercayai semua perkataan, melainkan keluarga yang belajar menguji setiap ajaran berdasarkan firman Tuhan dan buah kehidupannya.
BalasHapusKita hidup di tengah dunia yang dipenuhi berbagai informasi, pendapat, nasihat, dan ajaran. Melalui media sosial, video, percakapan, bahkan lingkungan pergaulan, kita dapat menerima banyak hal yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak.
BalasHapusKeluarga yang kuat dalam iman bukan keluarga yang mudah mempercayai semua perkataan, melainkan keluarga yang belajar menguji setiap ajaran berdasarkan firman Tuhan dan buah kehidupannya.
BalasHapusCHRISTIAN RICARDO LUBIS
BalasHapusApa yang terus-menerus kita dengar dan percayai dapat memengaruhi sikap kita. Jika kita terbiasa mendengarkan perkataan yang penuh kebencian, kita dapat menjadi mudah menghakimi. Jika kita terus-menerus mengikuti ajaran yang mengutamakan keserakahan, kita dapat kehilangan rasa cukup dan kepedulian kepada sesama.
Haleluya...Terpujilah Tuhan Yesus Kristus dan dari Dialah sumber pengajaran yang sejati.
BalasHapusGalang Lubis
BalasHapusSebagian informasi membawa manfaat, tetapi sebagian lainnya dapat menyesatkan. Ada perkataan yang terdengar rohani, tetapi tidak sesuai dengan firman Tuhan. Ada pula orang yang berbicara tentang kebenaran, tetapi kehidupannya tidak mencerminkan apa yang diajarkannya.
Menjaga iman juga berarti bijaksana dalam memilih bacaan, tontonan, percakapan, dan sumber pengajaran rohani
BalasHapusPaulus menunjukkan bahwa kebenaran tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang benar.
BalasHapusKarena itu, keluarga Kristen perlu belajar bersikap bijaksana. Kita tidak boleh langsung mempercayai segala sesuatu hanya karena disampaikan dengan meyakinkan, menggunakan ayat Alkitab, atau mengatasnamakan Tuhan.
BalasHapusKarena itu, keluarga Kristen perlu belajar bersikap bijaksana. Kita tidak boleh langsung mempercayai segala sesuatu hanya karena disampaikan dengan meyakinkan, menggunakan ayat Alkitab, atau mengatasnamakan Tuhan.
BalasHapus