PANGGILAN MEMBUTUHKAN KETAATAN
Shalom, apa kabar? disayang Tuhan,
disayang Tuhan, disayang Tuhan
Bacaan Alkitab Hari Ke-264, Tahun
2026: Kisah Para Rasul 13-16
Yesaya 6:8 “Ini aku, utuslah aku!”
Panggilan Allah bukan hanya untuk
didengar, tetapi untuk ditaati.
Ketika Nabi Yesaya melihat kemuliaan Tuhan, ia menyadari siapa dirinya di hadapan Allah. Setelah mengalami penyucian dari Tuhan, Yesaya mendengar suara Tuhan: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”
Respons Yesaya sangat sederhana,
tetapi penuh makna: “Ini aku, utuslah aku!”
Yesaya tidak meminta penjelasan
panjang tentang ke mana ia akan pergi, berapa lama tugasnya, atau apa yang akan
diterimanya. Ia terlebih dahulu menunjukkan kesediaan untuk taat.
Sering kali kita ingin mengetahui
seluruh rencana Tuhan sebelum melangkah. Kita berkata, “Tuhan, tunjukkan
dulu semuanya, baru saya mau berjalan.” Namun dalam kehidupan iman, Tuhan
sering meminta kita mengambil langkah ketaatan berikutnya sebelum kita
melihat seluruh jalan.
1. Ketaatan Dimulai dari Kesediaan
Kalimat “Ini aku”
menunjukkan bahwa Yesaya menyerahkan dirinya kepada Tuhan.
Panggilan Allah membutuhkan hati
yang bersedia berkata: “Tuhan, aku siap dipakai.”
Kesediaan lebih penting daripada
merasa sudah sempurna. Kita mungkin masih memiliki kelemahan, keterbatasan, dan
banyak hal yang harus dipelajari. Namun ketika hati kita terbuka kepada Tuhan,
Dia dapat membentuk dan memperlengkapi kita.
2. Ketaatan Tidak Harus Menunggu Kita Sempurna
Yesaya bukan manusia tanpa kelemahan. Ia justru menyadari ketidaklayakannya ketika berhadapan dengan kekudusan Allah. Tetapi Allah menyucikan dan mempersiapkannya.
Ini mengingatkan kita bahwa panggilan
Allah tidak berarti kita sudah sempurna; panggilan berarti kita bersedia
dibentuk oleh Allah.
Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai taat. Mulailah dari apa yang Tuhan percayakan hari ini.
3. Ketaatan Terlihat dalam Hal-Hal Sederhana
Ketaatan kepada Tuhan tidak
selalu berbentuk sesuatu yang besar. Ketaatan dapat terlihat ketika kita:
- berkata jujur ketika berbohong lebih mudah;
- mengampuni ketika hati masih terluka;
- menyelesaikan tanggung jawab dengan
sungguh-sungguh;
- menghormati orang tua dan sesama;
- setia dalam pelayanan;
- menggunakan talenta untuk menjadi berkat;
- menjaga perkataan dan perilaku;
- memilih melakukan yang benar meskipun tidak ada
yang melihat.
Ketaatan besar dibangun dari
keputusan-keputusan kecil yang dilakukan dengan setia.
4. Jangan Menunda Panggilan Tuhan
Ada kalanya kita mengetahui apa
yang benar, tetapi kita menundanya. Kita berkata:
“Nanti saja.”
“Saya belum siap.”
“Tunggu keadaan lebih baik.”
“Kalau sudah punya waktu.”
Padahal mungkin Tuhan sedang meminta kita melakukan sesuatu hari ini. Panggilan Tuhan perlu dijawab dengan tindakan.
Dengar → Percaya → Taat → Melangkah.
Hari ini saya memilih untuk
berkata seperti Yesaya: ‘Ini aku, Tuhan, utuslah aku.’ Saya mau menaati Tuhan
dalam hal-hal yang dipercayakan kepada saya, sekalipun saya belum mengetahui seluruh
jalan yang ada di depan.
Tuhan Yesus memberkati,
diberkati, diberkati, diberkati Tuhan, salam dan doa kami #RumahDoaKeluarga
Bagi yang membutuhkan konseling/doa dapat menghubungi: Rumah Doa Keluarga (0852-5629-3956)

Yesaya 6:8 “Ini aku, utuslah aku!”
BalasHapusPanggilan Allah bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk ditaati.
Hari ini saya memilih untuk berkata seperti Yesaya: ‘Ini aku, Tuhan, utuslah aku.’ Saya mau menaati Tuhan dalam hal-hal yang dipercayakan kepada saya, sekalipun saya belum mengetahui seluruh jalan yang ada di depan.
BalasHapusKesediaan lebih penting daripada merasa sudah sempurna. Kita mungkin masih memiliki kelemahan, keterbatasan, dan banyak hal yang harus dipelajari. Namun ketika hati kita terbuka kepada Tuhan, Dia dapat membentuk dan memperlengkapi kita.
BalasHapusKita mungkin masih memiliki kelemahan, keterbatasan, dan banyak hal yang harus dipelajari. Namun ketika hati kita terbuka kepada Tuhan, Dia dapat membentuk dan memperlengkapi kita.
BalasHapusJangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai taat.
BalasHapusCHRISTIAN RICARDO LUBIS
BalasHapushati yang bersedia berkata: “Tuhan, aku siap dipakai.”
Kesediaan lebih penting daripada merasa sudah sempurna. Kita mungkin masih memiliki kelemahan, keterbatasan, dan banyak hal yang harus dipelajari. Namun ketika hati kita terbuka kepada Tuhan, Dia dapat membentuk dan memperlengkapi kita.
BalasHapusSering kali kita ingin mengetahui seluruh rencana Tuhan sebelum melangkah. Kita berkata, “Tuhan, tunjukkan dulu semuanya, baru saya mau berjalan.” Namun dalam kehidupan iman, Tuhan sering meminta kita mengambil langkah ketaatan berikutnya sebelum kita melihat seluruh jalan.
BalasHapusPanggilan Allah membutuhkan hati yang bersedia berkata: “Tuhan, aku siap dipakai.”
BalasHapusAyat Hari Ini
BalasHapusYesaya 6:8 “Ini aku, utuslah aku!”
Yesaya 6:8 “Ini aku, utuslah aku!”
BalasHapusPanggilan Allah bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk ditaati.
Galang Lubis
BalasHapusSering kali kita ingin mengetahui seluruh rencana Tuhan sebelum melangkah. Kita berkata, “Tuhan, tunjukkan dulu semuanya, baru saya mau berjalan.” Namun dalam kehidupan iman, Tuhan sering meminta kita mengambil langkah ketaatan berikutnya sebelum kita melihat seluruh jalan.
Yesaya 6:8 “Ini aku, utuslah aku!”
BalasHapusKesediaan lebih penting daripada merasa sudah sempurna. Kita mungkin masih memiliki kelemahan, keterbatasan, dan banyak hal yang harus dipelajari. Namun ketika hati kita terbuka kepada Tuhan, Dia dapat membentuk dan memperlengkapi kita.
BalasHapusSering kali kita ingin mengetahui seluruh rencana Tuhan sebelum melangkah. Kita berkata, “Tuhan, tunjukkan dulu semuanya, baru saya mau berjalan.” Namun dalam kehidupan iman, Tuhan sering meminta kita mengambil langkah ketaatan berikutnya sebelum kita melihat seluruh jalan.
BalasHapusYesaya 6:8 “Ini aku, utuslah aku!”
BalasHapusPadahal mungkin Tuhan sedang meminta kita melakukan sesuatu hari ini. Panggilan Tuhan perlu dijawab dengan tindakan.
BalasHapus