KUASA PERKATAAN | RUMAH DOA KELUARGA - RDK

 

KUASA PERKATAAN

Shalom, apa kabar? disayang Tuhan, disayang Tuhan, disayang Tuhan

Bacaan Alkitab Hari Ke-185, Tahun 2026: Yesaya 46-49

Kolose 4:6 “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.”

Perkataan adalah cerminan karakter seorang pengikut Kristus. Rasul Paulus menasihati jemaat di Kolose agar setiap perkataan mereka senantiasa penuh kasih.

Ini berarti cara kita berbicara sama pentingnya dengan apa yang kita katakan. Kebenaran yang disampaikan tanpa kasih dapat melukai, tetapi kebenaran yang disampaikan dengan kasih dapat membawa perubahan.

Ungkapan "jangan hambar" menggambarkan perkataan yang bijaksana, sopan, dan memberi manfaat. Seperti garam yang memberi rasa dan mencegah kebusukan, demikian pula perkataan orang percaya seharusnya membawa damai, pengharapan, dan hikmat di tengah dunia yang penuh dengan kata-kata kasar dan perpecahan.

Setiap hari kita memiliki banyak kesempatan untuk berbicara: di rumah, di tempat kerja, di gereja, atau melalui media sosial. Tuhan memanggil kita untuk menggunakan setiap kesempatan itu sebagai sarana menyatakan kasih Kristus. Sebuah ucapan terima kasih, kata-kata penghiburan, atau nasihat yang disampaikan dengan lemah lembut dapat menjadi alat Tuhan untuk menguatkan seseorang.

Kolose 4:6 juga mengingatkan kita agar siap memberi jawaban kepada setiap orang. Sebagai orang percaya, jawaban kita tidak boleh lahir dari emosi, tetapi dari hati yang dipenuhi kasih dan hikmat Allah. Ketika Roh Kudus memimpin perkataan kita, orang lain dapat melihat karakter Kristus melalui setiap ucapan kita.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa perkataan orang percaya harus senantiasa penuh kasih. Nasihat ini terlihat nyata dalam kehidupan Yusuf, anak Yakub.

Yusuf mengalami banyak penderitaan. Ia dibenci saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjarakan. Secara manusia, ia memiliki alasan untuk membalas dendam ketika akhirnya menjadi penguasa di Mesir.

Namun, ketika bertemu kembali dengan saudara-saudaranya, Yusuf memilih menggunakan perkataan yang membawa pemulihan, bukan pembalasan.

Ia berkata: “Janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (Kejadian 45:5)

Kemudian ia kembali meneguhkan mereka: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan...” (Kejadian 50:20)

Perkataan Yusuf penuh kasih, pengampunan, dan iman kepada Allah. Ia tidak membiarkan kepahitan menguasai lidahnya. Sebaliknya, ia memakai perkataannya untuk menyembuhkan luka, memulihkan hubungan keluarga, dan menyatakan bahwa Allah tetap bekerja melalui segala keadaan.

Berkat Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa setiap perkataan harus membawa kasih karunia kepada orang yang mendengarnya. Seperti Yusuf, kita mungkin pernah disakiti atau diperlakukan tidak adil. Namun, Tuhan memanggil kita untuk memilih kata-kata yang membangun, mengampuni, dan membawa damai.

Perkataan yang dipenuhi kasih bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa hati kita telah dikuasai oleh kasih Kristus.

Tuhan Yesus memberkati, diberkati, diberkati, diberkati Tuhan, salam dan doa kami #RumahDoaKeluarga

Bagi yang membutuhkan konseling/doa dapat menghubungi: Rumah Doa Keluarga (0852-5629-3956)

Komentar