
KUASA PERKATAAN
Shalom, apa kabar? disayang Tuhan, disayang Tuhan,
disayang Tuhan
Bacaan Alkitab Hari Ke-183, Tahun 2026: Yesaya 38-41
Yakobus
1:19 “Hai saudara-saudaraku yang
kekasih, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi
lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”
Di zaman yang serba cepat, banyak orang lebih cepat
berbicara daripada mendengar. Kita sering ingin segera memberi pendapat,
membela diri, atau menanggapi suatu persoalan tanpa benar-benar memahami
keadaan. Yakobus mengajarkan prinsip yang berbeda: cepat mendengar, lambat
berkata-kata, dan lambat marah.
Nasihat ini menunjukkan bahwa kuasa perkataan tidak hanya terletak pada apa yang kita ucapkan, tetapi juga pada kemampuan kita mengendalikan diri sebelum berbicara. Kata-kata yang diucapkan tanpa berpikir dapat melukai hati, merusak hubungan, dan menimbulkan penyesalan.
Sebaliknya,
perkataan yang lahir dari hati yang tenang dan penuh hikmat dapat membawa
penghiburan, penyelesaian, dan damai.
Yesus sendiri menjadi teladan dalam hal ini. Ia mendengarkan orang-orang yang datang kepada-Nya, memahami pergumulan mereka, lalu memberikan jawaban yang penuh kasih dan kebenaran.
Perkataan-Nya selalu
tepat karena lahir dari hati yang dipenuhi kasih kepada Bapa dan kepada
manusia.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menggunakan perkataan sebagai alat yang membangun.
Sebelum berbicara, baiklah
kita bertanya: Apakah perkataan saya benar? Apakah perlu diucapkan? Apakah
disampaikan dengan kasih? Ketika kita belajar mengendalikan lidah, kita
sedang memberi ruang bagi Roh Kudus untuk memimpin setiap ucapan kita.
Yakobus mengajarkan bahwa orang yang berhikmat adalah
orang yang cepat mendengar, lambat berkata-kata, dan lambat marah.
Nasihat ini terlihat nyata dalam kehidupan Abigail, seorang perempuan
yang bijaksana.
Ketika Daud mengetahui bahwa Nabal, suami Abigail,
telah menghina dan menolak membantu rombongannya, Daud menjadi sangat marah dan
berniat membalas dengan kekerasan (1 Samuel 25:13, 22). Situasi itu dapat
berakhir dengan pertumpahan darah.
Namun, Abigail tidak bertindak dengan emosi. Ia mendengar apa yang telah terjadi, memahami keadaan, lalu mengambil tindakan dengan bijaksana. Ketika bertemu Daud, ia berbicara dengan rendah hati, penuh hormat, dan menggunakan kata-kata yang menenangkan.
Perkataannya bukan hanya
meredakan kemarahan Daud, tetapi juga mengingatkan Daud untuk tidak mengambil
pembalasan yang bukan kehendak Tuhan.
Karena perkataan Abigail yang penuh hikmat, Daud
mengurungkan niatnya. Ia bahkan memuji Tuhan yang telah mengutus Abigail untuk
mencegahnya berbuat dosa.
Kisah ini mengajarkan bahwa perkataan yang lahir
dari hati yang tenang dan dipimpin Tuhan dapat mengubah arah sebuah keadaan.
Sebaliknya, kata-kata yang diucapkan dalam kemarahan sering kali memperburuk
masalah.
Dalam keluarga, pelayanan, tempat kerja, atau media sosial, kita sering dihadapkan pada situasi yang menguji cara kita berbicara.
Yakobus mengingatkan agar kita tidak terburu-buru mengeluarkan kata-kata. Ketika kita mau mendengar lebih dahulu dan meminta hikmat Tuhan, perkataan kita dapat menjadi alat pendamaian dan berkat bagi banyak orang.
Tuhan Yesus memberkati, diberkati, diberkati,
diberkati Tuhan, salam dan doa kami #RumahDoaKeluarga
Bagi yang membutuhkan konseling/doa dapat
menghubungi: Rumah Doa Keluarga (0852-5629-3956)
Komentar
Posting Komentar