
KUASA PERKATAAN
Shalom, apa kabar? disayang Tuhan, disayang Tuhan,
disayang Tuhan
Bacaan Alkitab Hari Ke-182, Tahun 2026: Yesaya 34-37
1 Samuel
17:45 “Tetapi
Daud berkata kepada orang Filistin itu: ‘Engkau mendatangi aku dengan pedang
dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta
alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.’”
Perkataan Daud kepada Goliat bukan sekadar ungkapan
keberanian, tetapi pernyataan iman kepada Tuhan. Ketika semua orang melihat
besarnya Goliat, Daud melihat kebesaran Allah. Perkataannya lahir dari hati
yang percaya bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh kekuatan manusia, melainkan
oleh kuasa Tuhan.
Sebelum Daud mengayunkan umban, ia terlebih dahulu
menyatakan imannya melalui perkataannya. Ia tidak memuji dirinya sendiri atau
meremehkan lawannya. Sebaliknya, ia meninggikan nama Tuhan. Daud menyadari
bahwa ia datang bukan dengan kemampuan pribadinya, tetapi dengan penyertaan
Allah.
Perkataan kita juga menunjukkan kepada siapa kita
menaruh kepercayaan. Saat menghadapi kesulitan, kita dapat memilih untuk terus
mengucapkan ketakutan dan keputusasaan, atau kita dapat mengingat janji-janji
Tuhan dan menyatakan iman kepada-Nya. Ini bukan berarti mengabaikan kenyataan,
tetapi memandang kenyataan melalui perspektif iman bahwa Tuhan lebih besar
daripada persoalan yang kita hadapi.
Kuasa perkataan bukan terletak pada kata-kata itu
sendiri, melainkan pada iman kepada Tuhan yang menjadi dasar perkataan
tersebut. Ketika hati dipenuhi firman Tuhan, mulut kita akan lebih mudah
mengucapkan pengharapan daripada keputusasaan, syukur daripada keluhan, dan
keberanian daripada ketakutan.
Daud adalah contoh nyata bahwa perkataan yang lahir
dari iman memiliki kuasa untuk menguatkan dan memuliakan Tuhan. Ketika
berhadapan dengan Goliat, ia tidak mengucapkan kata-kata yang dipenuhi
ketakutan, meskipun secara manusia ia jauh lebih kecil, lebih muda, dan tidak
berpengalaman sebagai prajurit.
Sebelum pertempuran dimulai, Daud terlebih dahulu
menyatakan imannya. Ia berkata bahwa ia datang "dengan nama TUHAN
semesta alam." Perkataan itu menunjukkan bahwa Daud tidak mengandalkan
pedang, tombak, atau kekuatannya sendiri, tetapi kuasa Allah yang menyertainya.
Apa yang diucapkan Daud mencerminkan isi hatinya yang penuh kepercayaan kepada
Tuhan.
Berbeda dengan tentara Israel yang selama empat
puluh hari hanya mendengar ancaman Goliat dan dipenuhi rasa takut (1 Samuel
17:16, 24), Daud memilih untuk memenuhi pikirannya dengan kebesaran Tuhan.
Karena hatinya dipenuhi iman, mulutnya pun mengucapkan perkataan yang
membangkitkan keberanian.
Kisah ini mengajarkan bahwa perkataan kita tidak
mengubah kuasa Tuhan, tetapi perkataan kita menunjukkan kepada siapa kita
percaya. Ketika hati dipenuhi firman Tuhan, kita akan lebih mudah
mengucapkan pengharapan daripada keputusasaan, iman daripada ketakutan, dan
syukur daripada keluhan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin
menghadapi "Goliat" berupa masalah keluarga, pekerjaan, kesehatan,
atau pelayanan. Seperti Daud, kita dipanggil untuk tidak membiarkan ketakutan
menguasai perkataan kita. Sebaliknya, marilah kita mengingat janji Tuhan dan
menyatakan iman bahwa Dia sanggup menyertai dan menolong kita.
Hari ini, marilah kita menggunakan perkataan untuk
memuliakan Tuhan dan menguatkan iman, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang
lain.
Tuhan Yesus memberkati, diberkati, diberkati,
diberkati Tuhan, salam dan doa kami #RumahDoaKeluarga
Bagi yang membutuhkan konseling/doa dapat menghubungi: Rumah Doa Keluarga (0852-5629-3956)
Komentar
Posting Komentar